News
Cerita Perempuan Destana di Magetan, Tangguh dengan UMKM Sirup Mawar dan Tangguh Padamkan Api
Published
3 jam agoon
By
rasinews
RASI MEDIA — Api menyala di hadapan sejumlah perempuan Desa Sumber Sawit, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Mereka tidak menjauh. Sebaliknya, para perempuan itu bergerak mendekati sumber api dan mencoba memadamkannya dengan peralatan yang telah disiapkan. Salah seorang perempuan terlihat berusaha mengatasi kobaran api dalam simulasi kebakaran yang menjadi bagian dari kegiatan Desa Tangguh Bencana (Destana). Latihan tersebut menjadi pengalaman penting bagi warga, terutama perempuan, untuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat. “Airnya yang susah, Pak. Sumber airnya jauh. Kita akhirnay menggunakan gepyok dan membuat ilaran agar api tidak menyebar,” ujar Nita, salah satu anggota Destana perempuan Desa Sumber Sawit, seusai mengikuti simulasi kebakaran pada Selasa (29/9/2026)
Meski menghadapi keterbatasan, Nita tidak menunjukkan ketakutan. Ketika ditanya apakah dirinya takut menghadapi kebakaran, ia menjawab singkat. “Enggak takut. Karena sudah tahu caranya bagaimana memadamkan kebakaran komor dan lain sebagainya termasuk kebakaran lahan,” katanya.
Bagi perempuan Desa Sumber Sawit, latihan itu bukan sekadar kegiatan seremonial. Mereka sedang mempersiapkan diri menghadapi berbagai ancaman bencana di wilayah yang berada di lereng Gunung Lawu terutama kebakaran lahan dan hutan yang saat ini cukup sering terjadi.
Namun, ketangguhan perempuan di desa itu tidak hanya terlihat ketika mereka berhadapan dengan api. Di sela kegiatan kebencanaan, mereka juga mengembangkan potensi ekonomi yang berasal dari lingkungan desa sekitar. Salah satunya bunga mawar yang tumbuh subur di lahan pekarangan mereka. Karena haragnay murah, warga kemudian mengolah menjadi produk sirup mawar. “ Kalau hari gini murah sekali bahkan cenderung tidak laku. Mahalnya kalau jelang lebaran satu senik bisa Rp 300 ribu. Kalau gini cuman Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu. Akhirnya kita olah jadi sirup mawar,” kata Rosmiati anggota desatana Desa Sumebr Sawit lainnya.
Dari kebun mawar hingga latihan memadamkan api, para perempuan Sumber Sawit berusaha membangun ketangguhan dari apa yang mereka miliki.
Belajar dari bencana masa lalu
Ketua Destana Desa Sumber Sawit Tugiyo mengatakan, kelompok Destana di desanya baru terbentuk sekitar dua taun lalu. Sejak awal pembentukan, warga mulai memetakan berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di wilayah mereka. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa angin kencang menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai. Ancaman tersebut bukan sekadar perkiraan karena warga masih menyimpan pengalaman bencana angin kencang yang terjadi pada 1985. Saat itu, angin topan datang pada malam hari. Suara gemuruh terdengar sebelum angin menerjang permukiman warga. Ratusan rumah roboh dan mengalami kerusakan berat. “Terjadi malam hari. Tahu-tahu ada suara gemuruh, kemudian banyak rumah roboh,” kata Tugiyo, mengulang cerita warga yang mengalami kejadian tersebut.
Menurut cerita warga, ratusan rumah mengalami kerusakan akibat kejadian tersebut. Sebagian rumah bahkan hancur dan tidak dapat ditempati kembali. Meski kerusakan cukup parah, tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut. Pemerintah kemudian memberikan bantuan kepada warga yang rumahnya rusak. Bantuan itu antara lain berupa rumah tinggal sementara dengan konstruksi sederhana. “ Ratusan rumah rusak, ada lebih dari 2 desa. Akhirnya dapat bantuan pemerintah untuk nuat rumah dari seng itu,” ucap Tugiyo.
Puluhan tahun berlalu, pengalaman tersebut kini menjadi pengingat bagi warga Sumber Sawit bahwa bencana dapat datang tanpa banyak peringatan. Bedanya, warga kini mulai berusaha mempersiapkan diri. Mereka tidak ingin hanya menunggu bantuan ketika bencana terjadi. “Kita mengajak warga, terutama kaum ibu-ibu, untuk pemberdayaan perempuan yang berkaitan dengan bencana angin,” ujar Tugiyo.
Di Destana Sumber Sawit, sekitar 27 perempuan terlibat bersama sekitar 30 anggota laki-laki. Mereka mengikuti berbagai kegiatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, mulai dari membersihkan saluran air dan lingkungan sungai hingga mengikuti simulasi kebakaran. “Kita sudah dua kali melakukan praktik kegiatan kebakaran. Hari ini praktik lagi untuk pemadaman kebakaran karena kebakaran saat ini lagi marak terjadi sehingga anggota desatana terutama perempuan siap menghadapi bencana,” kata Tugiyo.
Perempuan mengambil peran
Manager Komunikasi dan DGSL PLN ITJBM Unit Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali Agustin Kusmawati mengatakan, melalui kegiatan kegiatan simulasi kebencanaan melalui pemberdayaan perempuan yang diselenggarakan di Desa Sumber Sawit, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, PLN sengaja menguatkan peran perempuan dalam kesiapsiagaan bencana. Menurutnya penanganan bencana selama ini sering kali lebih identik dengan laki-laki karena sejumlah kegiatan di lapangan membutuhkan tenaga fisik. Padahal, perempuan memiliki peran penting sejak tahap pencegahan hingga penanganan awal. “Di setiap bencana, peran perempuan tetap dibutuhkan,” kata Agustin.
Perempuan, lanjut dia, dapat membantu mengoordinasikan dapur umum, menyampaikan informasi kepada tetangga, serta memberikan pengetahuan mengenai kebencanaan kepada anggota keluarga. Kegiatan sehari-hari seperti PKK dan arisan juga dapat menjadi ruang untuk menyebarkan pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana. “Jadi tidak hanya sekadar arisan. Ada wawasan baru bahwa tanggap bencana ini bisa kita tularkan melalui PKK pada saat arisan ataupun kegiatan lainnya,” ujarnya.
Agustin berharap perempuan semakin aktif dalam kegiatan kebencanaan. Menurut dia, kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab laki-laki, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh anggota masyarakat. “Jadi tidak hanya dari sisi bapak-bapak atau laki-laki, tetapi kita sebagai perempuan juga menjadi dukungan tersendiri untuk kegiatan tanggap bencana,” katanya.
Menyiapkan tas siaga dari rumah
Prasetyo Caroline dari Kantor Induk WTJBM Wilayah Transmisi Jawa Bagian Timur dan Madura, bagian Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), mengatakan kesiapsiagaan perlu dimulai dari tingkat keluarga. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menyiapkan tas siaga bencana. Tas tersebut berisi berbagai kebutuhan dasar yang dapat digunakan ketika terjadi keadaan darurat. “Setiap rumah atau setiap keluarga diharapkan sudah mengerti pentingnya menyiapkan tas siaga ini,” kata Prasetyo.
Menurut dia, isi tas dapat berupa dokumen penting, senter, power bank, makanan kering yang mudah dimasak, air mineral, pakaian, dan selimut. Tas tersebut juga perlu diperiksa secara berkala. Makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi harus diganti, sedangkan peralatan yang rusak perlu diperbarui. “Kita ingin meningkatkan kesadaran itu. Tas siaga perlu diperbarui setiap beberapa bulan supaya makanan ataupun peralatan lain di dalamnya selalu siap digunakan,” ujarnya.
Dengan demikian, ketika bencana terjadi, keluarga sudah memiliki perlengkapan dasar dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar.
Naik dari Pratama menjadi Madya
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Magetan Sunarto mengatakan, Desa Sumber Sawit menjadi salah satu desa yang mendapatkan perhatian dalam program pemberdayaan perempuan dan kesiapsiagaan bencana. Menurut Sunarto, aktivitas perempuan di Desa Sumber Sawit menjadi salah satu pertimbangan dalam penguatan Destana. Selain aktif dalam kegiatan kebencanaan, perempuan di desa tersebut juga terlibat dalam kegiatan kesehatan dan pemberdayaan ekonomi. “Teman-teman Destana Desa Sumber Sawit itu perempuannya lebih dominan dibandingkan dengan Destana yang lain. Selain aktif di Destana, mereka juga aktif dalam kegiatan pemberdayaan perempuan,” kata Sunarto.
Salah satu bentuk pemberdayaan tersebut adalah pemanfaatan bunga mawar. Tanaman yang banyak tumbuh di sekitar kebun warga diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Menurut Sunarto, aktivitas tersebut menjadi salah satu kekuatan Desa Sumber Sawit dalam mengembangkan ketangguhan masyarakat. “Di sini banyak kebun mawar. Bunga itu diolah oleh perempuan-perempuan yang ada di desa menjadi sesuatu yang nilai jualnya lebih tinggi,” ujarnya.
Dalam penilaian ketangguhan desa, Sumber Sawit sebelumnya berada pada kategori Pratama. Setelah mendapatkan pendampingan pada 2026, statusnya meningkat menjadi Madya. “Indeks penilaian Desa Tangguh Bencana ada tiga, yaitu Pratama, Madya, kemudian Utama,” kata Sunarto.
Namun, Sumber Sawit belum berada pada kategori Utama. Masih ada sejumlah indikator yang perlu diperkuat, terutama kesiapsiagaan tanggap darurat dan kesiapan pemulihan setelah bencana. Karena itu, simulasi kebakaran dan kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian dari proses untuk memperkuat ketangguhan desa.
Dari bunga mawar menjadi sirup
Di tengah kegiatan kebencanaan, Farida salah satu anggota Desatana Desa Sumber Sait menunjukkan produk yang dibuat bersama perempuan Desa Sumber Sawit. Namanya sirup mawar. Bahan baku minuman tersebut berasal dari bunga mawar yang tumbuh di kebun warga. Bunga yang selama ini menjadi bagian dari pemandangan desa diolah menjadi produk minuman. Diana mengatakan, proses pembuatan sirup dimulai dengan merebus air gula hingga mendidih. Setelah itu, kelopak bunga mawar yang telah dipisahkan dari tangkainya dimasukkan ke dalam air gula. Tangkai bunga tidak digunakan karena dapat memberikan rasa pahit.”Air gulanya sudah mendidih, baru masuk mawar. Tangkainya dilepas karena nanti pahit,” katanya.
Kelopak bunga terlebih dahulu dicuci sebelum dimasukkan ke dalam air gula. Bunga kemudian direbus sekitar 10 menit agar warna dan aroma alaminya keluar. Setelah itu, cairan dibiarkan hingga dingin sebelum disaring. “Didiamkan dulu supaya keluar warnanya. Warna aslinya dari mawar,” ujar Farida.
Sirup tersebut dibuat tanpa pewarna tambahan. Namun, menemukan rasa yang tepat tidak terjadi dalam satu kali percobaan. Diana bersama kelompoknya beberapa kali melakukan eksperimen. Pada percobaan awal, sirup terasa pahit meskipun telah menggunakan gula. “Kita mencoba. Pertama rasanya pahit. Sampai dua kali masih pahit, padahal ada gula,” kata Farida.
Mereka kemudian mencoba menambahkan kayu manis untuk mengurangi rasa pahit sekaligus memberikan aroma tambahan. Setelah formula tersebut ditemukan, mereka menggunakan jeruk nipis saat penyajian untuk memberikan rasa segar. “Jeruk nipisnya waktu penyajian. Kalau langsung dicampur dari awal, rasanya malah pahit,” ujar Farida.
Resep lahir dari kegagalan
Bagi Farida, proses menemukan formula sirup mawar menjadi pengalaman tersendiri. Mereka harus mencoba beberapa kali sebelum menemukan rasa yang dianggap sesuai. Karena formula tersebut merupakan hasil percobaan kelompok, takaran bahan menjadi bagian penting yang mereka jaga. ” lebih dari 10 kali percobaan agar bisa menemukan takaran yang pas dan bagaimana meracik karena seperti jeruk nipis harus diakhir penyajian sama penggunana kayu manis untuk menemukan merah mawar yang pas,” ucap Farida
Sirup mawar tersebut juga masih dibuat secara alami dan belum menggunakan bahan pengawet. Kondisi itu membuat daya simpannya terbatas. Diana mengatakan, mereka pernah mencoba menyimpan sirup lebih dari satu minggu, tetapi rasa minuman mulai berubah. “Kalau lebih dari seminggu rasanya berbeda. Jadi kalau lebih dari seminggu, ya kita buang dan bikin lagi,” jelas Farida.
Karena itu, sirup mawar tersebut belum dapat dipasarkan secara luas. Saat ini produk lebih banyak dibuat untuk kegiatan tertentu senagai produk unggulan di desanya. Padahal, sudah ada permintaan agar sirup tersebut dapat dijual di luar kegiatan desa. Persoalan daya simpan menjadi salah satu tantangan yang harus mereka pecahkan sebelum produk dikembangkan secara komersial.
Farida berharap ada pelatihan lebih lanjut mengenai pengolahan dan daya simpan produk sehingga sirup mawar dapat dipasarkan lebih luas tanpa menghilangkan karakter alaminya.
Belajar menghadapi api
Sementara bagi Ibu Rusmiati, anggota Destana perempuan Desa Sumber Sawit, latihan kebencanaan memberikan pengalaman yang penting bagi warga. Perempuan tidak lagi hanya mendapatkan informasi mengenai bencana melalui sosialisasi. Mereka ikut mempraktikkan tindakan yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi. Dalam simulasi kebakaran, mereka belajar mengenali sumber masalah dan mencoba melakukan pemadaman awal.
Latihan tersebut juga memperlihatkan persoalan yang mungkin muncul di lapangan, salah satunya keterbatasan sumber air. Bagi warga, pengalaman tersebut justru penting karena mereka dapat mengetahui kekurangan yang masih harus diperbaiki.” Kita terus berlatih mengenal alat dan cara penggunannya. Jadi akan lebih siap saat ada bencana kebakaran meskipun kami mengharapkan ada bencana kebakaran,” terangnya.
Sementara Agustin mengatakan, pengetahuan yang diperoleh perempuan dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga. “Di rumah tangga, ibu-ibu bisa memberikan pembelajaran dini. Tidak hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk anak-anaknya,” ujarnya.
Dengan demikian, kesiapsiagaan bencana tidak berhenti di lokasi pelatihan. Pengetahuan itu dapat dibawa pulang dan diterapkan di lingkungan keluarga.
Ke depan, Destana Sumber Sawit berencana memperkuat kegiatan pencegahan. Salah satunya melalui penanaman pohon dan bambu di sejumlah wilayah desa. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga lingkungan sekaligus mengurangi risiko akibat angin kencang. “Kita akan melakukan kegiatan yang sifatnya mengantisipasi sebelum terjadi kebencanaan. Salah satunya penanaman pohon dan bambu untuk melindungi desa dari angin,” kata Tugiyo.
Peralatan penanganan bencana juga terus dilengkapi. Bantuan dari PLN peduli yang diterima Desatana Desa Sumber Sawit antara lain peralatan dapur umum, peralatan pertanian, mesin gergaji untuk menangani pohon tumbang, genset serta pemecah batu menggunakan listrik. “ Pemceh batu listrik ini karena disini juga potensi bencana longsor. Apalagi batu disini besar besa, jadi peralatan digunakan dengantenaga diesel,” kata Tugiyo.
Peralatan tersebut dipersiapkan untuk membantu warga melakukan penanganan awal ketika terjadi keadaan darurat. Namun, warga menyadari bahwa peralatan saja tidak cukup. Kemampuan menggunakannya juga harus dilatih. Karena itu, para perempuan Sumber Sawit terus belajar. Mereka belajar memadamkan api. Mereka belajar menyiapkan tas siaga. Mereka belajar menjaga lingkungan dan mengenali ancaman bencana di sekitar tempat tinggal.
Ketangguhan yang tumbuh dari desa
Pada saat yang sama, mereka tetap memetik bunga mawar dan mengolahnya menjadi sirup. Di Desa Sumber Sawit, ketangguhan perempuan tumbuh dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka. Bunga mawar yang tumbuh di kebun diubah menjadi minuman. Pengalaman pahit dalam membuat sirup menjadi pengetahuan untuk menemukan formula yang lebih baik. Pengalaman menghadapi bencana masa lalu menjadi alasan untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Sementara latihan memadamkan api menjadi keberanian untuk menghadapi keadaan darurat. “ Kami sekarang siap kalau menghadapai bencan baik angina putting beliung maupaun kebakaran. Latihan itu membuatkami siap meski kami tak berharap menggunakan klterampilan yang kami miliki,” ujar Sumarmi anggota Desatana lainnya.
Mereka tidak ingin menjadi perempuan yang hanya menunggu bantuan ketika bencana datang. Mereka ingin tahu apa yang harus dilakukan ketika api mulai menyala, ketika angin kencang menerjang, atau ketika keluarga membutuhkan pertolongan. Di lereng Gunung Lawu itu, ketangguhan akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa kuat seseorang menghadapi bencana. Ketangguhan juga tumbuh dari kemampuan perempuan menjaga keluarganya, merawat lingkungannya, menghidupkan ekonomi desa, dan berani belajar menghadapi risiko.
Dari kelopak mawar yang diracik menjadi sirup hingga api yang dilatih untuk dipadamkan, perempuan Sumber Sawit sedang menyiapkan diri untuk satu kemungkinan yang sama, tetap mampu berdiri ketika bencana datang.
You may like
-
Dinas Pendidikan Kabupaten Magetan Nilai Evaluasi Perpanjangan Kontrak Guru P3K 3 tahun, Ini Alasannya.
-
Kontrak 1.109 PPPK Paruh Waktu Diperpanjang, Bupati Magetan: Gaji Tetap
-
Cerita Imam Tentang Tiga Lembar Uang Oerida dan Jejak Sejarah Magetan yang Hampir Hilang
-
MTQ Tingkat Kabupaten Magetan 2026, Quran di Hati Karya di Aksi untuk Magetan Harmonis
-
Cadangan Air Waduk Gonggang Magetan Masih Aman hingga Akhir Oktober
-
Tak Hanya Untuk Upacara, Monumen Soco Magetan Akan Jadi Lokasi Edukasi

