Kesehatan & OlahRaga
Cerita Kader Kesehatan Kecamatan Bendo Gugah Kepedulian Masyarakat Terhadap Kesehatan Mata
Published
8 bulan agoon
By
rasinews
RASI MAGETAN – Suara riuh anak-anak SD bercampur dengan tawa ibu-ibu kader kesehatan mengisi aula gedung serba guna Desa Pingkuk, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Pagi itu, satu per satu warga duduk antre menunggu giliran pemeriksaan mata gratis yang digelar oleh Yayasan Paramitra bersama Paguyuban Kader Kesehatan Kecamatan Bendo.
Kegiatan tersebut menjadi bukti nyata kepedulian para kader terhadap kesehatan masyarakat, khususnya penglihatan. Ketua Paguyuban Kader Kesehatan Kecamatan Bendo, Sapari Anggoro, mengatakan kegiatan ini merupakan wujud gotong royong antara kader dan lembaga sosial dalam meningkatkan kesejahteraan warga. “Kami bersyukur bisa bersama warga masyarakat Desa Pingkuk. Dengan dukungan Yayasan Paramitra, kami bisa membantu warga yang mengalami gangguan penglihatan. Insyaallah mereka yang membutuhkan bisa mendapatkan bantuan kacamata gratis,” ujar Sapari di sela kegiatan.
Menurut Sapari, keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari semangat kader di lapangan. Para kader menjadi ujung tombak dalam menggerakkan kesadaran masyarakat agar peduli terhadap kesehatan mata dengan menembuh berbagai cara pendekatan kepada masyarakat. “Kalau kader-kader bekerja dengan semangat dan ikhlas. Dulu masyarakat banyak yang tidak peduli, tapi sekarang mereka mulai sadar pentingnya periksa mata. Metode pendekatan kita dengan kegiatan sosial membagi sembako kepada masyarakat yang membutuhkan dari hasil urusan para kader,” ungkapnya.
Namun, Sapari mengakui pendekatan kepada masyarakat tidak selalu mudah. Sebagian warga pedesaan masih menganggap pemeriksaan mata bukan kebutuhan mendesak. Karena itu, paguyuban rutin mengadakan pertemuan bulanan agar bisa bertemu langsung dengan warga dan memberi penyuluhan. “Sebenarnya sulit mengajak masyarakat, tapi kalau mau bekerja sabar dan dengan pendekatan yang baik, tidak terlalu sulit. Setiap bulan kami ada pertemuan rutin, kami undang warga, kami beri saran, dan Alhamdulillah mereka mau datang,” tambahnya.
Anak-Anak Juga Mulai Terdampak
Penanggung Jawab Kesehatan Desa Pingkuk sekaligus pembina kader, Juwita Ratnasari, mengungkapkan bahwa persoalan penglihatan kini tak hanya dialami lansia, tapi juga anak-anak sekolah dasar. Berdasarkan hasil skrining para kader, banyak siswa SD mengalami gangguan penglihatan karena terlalu sering menatap layar gawai. “Kalau dulu yang bermasalah itu orang tua, sekarang anak-anak juga mulai terdampak. Banyak anak SD yang mengalami gangguan penglihatan karena terlalu sering menatap layar HP,” jelas Juwita.
Melalui kerja sama dengan Yayasan Paramitra, setiap desa kini memiliki kader mata yang telah dilatih khusus. Mereka mampu melakukan skrining dasar di posyandu maupun sekolah. “Setelah pelatihan dari Yayasan Paramitra, kader mata kami bisa melakukan pemeriksaan dasar di posyandu dan sekolah. Dari hasil itu, kami data dan ajukan ke pihak yayasan untuk pemeriksaan lanjutan. Bahkan kemarin, enam anak SD di Desa Pingkuk sudah menerima kacamata gratis,” ungkapnya.
Sekolah Turut Mendukung Pemeriksaan Mata
Kegiatan pemeriksaan juga melibatkan sekolah-sekolah di wilayah Bendo. Guru Bimbingan Konseling SMPN 2 Bendo, Nirva, menyebut pemeriksaan ini sangat bermanfaat bagi siswa yang selama ini tidak terpantau dalam pemeriksaan umum. “Dari hasil cek kesehatan kemarin, ada beberapa siswa yang mengalami gangguan penglihatan. Makanya diarahkan ke sini untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kalau memang dibutuhkan, nanti akan diberikan kacamata gratis,” ujarnya.
Nirva menambahkan, kegiatan seperti ini masih jarang dilakukan di sekolah. “Jarang ada tenaga medis yang datang langsung ke sekolah untuk memeriksa mata anak-anak. Biasanya hanya guru yang diperiksa, padahal kesehatan mata siswa juga penting,” tegasnya.
Ia menyebut salah satu penyebab utama gangguan penglihatan pada siswa adalah penggunaan gawai tanpa batas. “Anak-anak sekarang main HP tanpa kontrol, bisa seharian. Itu yang sering membuat mata mereka cepat lelah,” tambahnya.
Suara dari Para Peserta
Salah satu siswa, Rahma Nur Imanu Diswanto, mengaku sering kesulitan melihat tulisan di papan tulis. Rahma mengatakan keluhan itu sudah ia rasakan sejak kelas tujuh, tetapi belum pernah memeriksakan mata sebelum ada kegiatan ini. “Kalau lihat agak jauh, tidak biasa, jadi harus menyipitkan mata. Kalau periksa belum. Ini baru periksa karena ada pemeriksaan mata gratis,” ujarnya malu-malu.
Warga Desa Pingkuk, Yuni (31), juga memanfaatkan kesempatan pemeriksaan mata gratis ini. Ia mengaku sudah mengalami gangguan penglihatan sejak 2013. “Saya minus satu, tapi kalau pakai kacamata malah semakin buram. Mungkin ukurannya harus diganti,” katanya.
Yuni mengaku belum memeriksakan ulang penglihatannya bukan karena biaya, tapi karena merasa belum terlalu penting. “Padahal sebenarnya ingin tahu berapa minusnya sekarang,” ujarnya.
Sementara itu, Anggra Etiya, orang tua siswa Silvia Raisa Salwa Adhia, mengungkapkan anaknya baru diketahui mengalami gangguan penglihatan saat kelas dua SD. “Awalnya guru bilang anak saya tidak bisa melihat papan tulis dari jarak satu meter. Setelah dibawa ke puskesmas, dirujuk ke rumah sakit, ternyata minus dua dan satu serta ada silinder,” tuturnya.
Ia berharap program pemeriksaan mata yang dilakukan oleh Yayasan Paramitra bisa membantu anaknya mendapat kacamata yang tepat. “Kalau kacamatanya tidak cocok malah tidak nyaman dipakai. Alhamdulillah, dengan program ini bisa dapat kacamata gratis,” ucapnya.
Dukungan dari Yayasan Paramitra
Dari pihak penyelenggara, Erna dari Yayasan Paramitra, menjelaskan kegiatan pemeriksaan mata gratis digelar untuk memperingati Hari Penglihatan Dunia. “Kami berkolaborasi dengan puskesmas dan sekolah. Ada sekitar 160 peserta dari Kecamatan Bendo dan sekitarnya,” jelasnya.
Selain pemeriksaan mata, masyarakat juga mendapat layanan cek kesehatan seperti pemeriksaan gula darah dan penyuluhan tentang hubungan antara diabetes dan kesehatan mata. “Untuk orang tua, keluhan terbanyak penglihatan kabur dan kotoran di mata, kemungkinan pterigium atau katarak. Sedangkan siswa mayoritas mengalami gangguan jarak jauh,” paparnya.
Erna menambahkan, hasil pemeriksaan akan ditindaklanjuti sesuai kebutuhan masing-masing peserta. “Yang perlu penanganan lanjut akan dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit. Sementara siswa yang butuh kacamata akan mendapat secara gratis setelah jadi,” ujarnya.
Menurut Erna, hingga kuartal ketiga 2025, kader kesehatan mata di Magetan telah mendapat pelatihan ulang agar bisa menjangkau lebih banyak masyarakat. “Saat ini sudah ada sepuluh desa di Magetan yang menjadi Desa Siaga Mata. Kami berharap nantinya melalui peraturan desa, kebutuhan masyarakat terkait kesehatan mata bisa diakomodir,” jelasnya.
Ia mencontohkan Desa Tulung yang telah memiliki Peraturan Desa tentang Kesehatan Mata dan mengalokasikan anggaran untuk sosialisasi serta media informasi. “Itu contoh baik. Dengan adanya banner, baliho, dan edukasi, masyarakat semakin sadar bahwa menjaga kesehatan mata itu penting,” pungkasnya.
Menjelang sore, suasana Balai Desa Pingkuk berangsur teduh. Di tengah tumpukan kartu pemeriksaan dan kacamata baru, senyum lebar tampak di wajah anak-anak yang kini bisa melihat lebih jelas. Dari kegiatan sederhana itu, para kader membuktikan bahwa kepedulian tak harus menunggu besar,cukup dimulai dari hati yang ringan untuk membantu sesama. Pemeriksaan di SMPN 2 Bendo dan Desa Pingkuk menjadi pengingat bahwa kesehatan mata perlu dijaga sejak dini, karena penglihatan yang sehat adalah modal utama untuk belajar, bekerja, dan menikmati hidup dengan lebih baik. (DmS)
VISUAL NEWS klik
795 total views, 3 views today


