MAGETAN, KOMPAS.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mulai menguji metode baru perbaikan jalan menggunakan aspal emulsi. Metode tersebut dinilai memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan pengaspalan konvensional. Salah satunya, jalan yang telah diperbaiki dapat kembali dilalui kendaraan sekitar empat jam setelah pengerjaan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Magetan, Hariyanto, mengatakan metode tersebut diterapkan untuk menjawab keluhan masyarakat terkait sisa material pengaspalan yang selama ini dapat mengganggu pengguna jalan. “Ini memang metode baru di kami. Kelebihannya ini menjawab komplain masyarakat. Selama ini setelah perbaikan jalan dengan metode buras, masih ada sisa material seperti pasir yang harus menunggu sampai optimal,” kata Hariyanto.
Menurut dia, sisa material tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna jalan karena pasir dapat tercecer dan menimbulkan debu. Karena itu, PUPR Magetan mencoba menggunakan metode aspal emulsi yang dinilai lebih rapat dalam menutup permukaan jalan, termasuk pada bagian yang mengalami keretakan. “Secara umur bisa lebih panjang, sekitar dua sampai tiga tahun. Secara kualitas juga lebih bagus karena bisa menutup keretakan dan hasilnya lebih rapat,” ujarnya.
Hariyanto menjelaskan, aspal emulsi berbeda dengan aspal bakar atau aspal bitumen yang selama ini umum digunakan dalam pekerjaan perbaikan jalan. Material yang digunakan antara lain abu batu, semen, aspal emulsi dan air. Campuran tersebut digunakan untuk memperbaiki permukaan jalan yang mengalami kerusakan. Meski harga bahan aspal emulsi lebih mahal dibandingkan metode biasa, Hariyanto menyebut daya tahan dan kualitas hasil pekerjaan menjadi salah satu pertimbangannya. “Kalau dari sisi bahan memang lebih mahal. Tetapi ini lebih awet,” katanya.
Selain itu, metode tersebut membutuhkan tenaga kerja lebih sedikit dan waktu pengerjaan yang relatif cepat. PUPR Magetan saat ini masih melakukan uji coba untuk mendapatkan komposisi dan formula yang paling sesuai dengan kondisi jalan di Magetan. “Ini masih uji coba. Sudah dua sampai tiga kali kami trial. Mudah-mudahan ini hasil yang paling bagus,” kata Hariyanto.
Menurut Hariyanto, metode tersebut sebelumnya telah digunakan dalam pekerjaan proyek selama sekitar lima tahun. Namun, penerapannya melalui pola swakelola oleh PUPR Magetan baru dilakukan saat ini. Dia membuka peluang metode tersebut nantinya diterapkan untuk perbaikan jalan di tingkat desa. PUPR siap berdiskusi dengan pemerintah desa maupun kelompok masyarakat yang tertarik mengembangkan metode serupa. “Sangat bisa. Ke depan dari PU, dari UPTD, kami harapkan juga pengerjaan dengan metode ini untuk aspal yang kondisinya sudah bagus tetapi mengalami kerusakan,” ujarnya.
Warga menyambut metode aspal emulsi
Warga sekitar lokasi perbaikan jalan, Hendro, menilai penggunaan aspal emulsi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat karena jalan dapat lebih cepat digunakan kembali. Menurut Hendro, waktu pengerjaan dan masa tunggu yang lebih singkat membuat aktivitas warga tidak terlalu terganggu. Jalan juga dapat segera dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan ekonomi masyarakat. “Kalau menggunakan aspal emulsi ini lebih cepat. Warga juga bisa lebih cepat memanfaatkan jalan untuk aktivitas sehari-hari, termasuk untuk pemberdayaan ekonomi,” kata Hendro.
Selain lebih cepat, Hendro menilai metode tersebut memiliki kelebihan karena tidak menimbulkan debu seperti pengerjaan jalan yang masih menyisakan material pasir. “Yang paling terasa tidak berdebu. Pengerjaannya juga lebih cepat, sehingga masyarakat tidak terlalu lama menunggu jalan bisa dilewati kembali,” ujarnya.
Hendro berharap metode tersebut dapat diterapkan di ruas jalan lain yang membutuhkan perbaikan, terutama jalan yang menjadi akses aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi. Hariyanto berharap semakin banyak pihak yang memahami teknologi pengaspalan tersebut, termasuk pemerintah desa dan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, metode perbaikan jalan yang lebih cepat dapat dikembangkan di berbagai wilayah. “Kalau semakin banyak yang punya alat seperti ini, insyaallah Magetan jalannya semakin bagus,” katanya.
Dengan metode aspal emulsi tersebut, jalan yang selesai diperbaiki ditargetkan dapat kembali dibuka untuk lalu lintas sekitar empat jam setelah pengerjaan. “Kalau dengan aspal biasa mungkin dua sampai tiga hari baru optimal. Kalau ini empat jam nanti sudah bisa langsung dilalui,” kata Hariyanto.