Connect with us

News

Cerita Mbah Semi yang Ngutang Beras Setelah Namanya Tak Terdaftar Sebagai Penerima Bantuan Beras Miskin.

Published

on

Cerita Mbah Semi yang Ngutang Beras Setelah Namanya Tak Terdaftar Sebagai Penerima Bantuan Beras Miskin.

RASI FM – Langkahnya Semi warga Desa Gebyog, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan, masih gesit meski usianya diperkirakan 90 tahun. Dia tinggal di rumahnya yang berukuran 4X6 meter bantuan pemerintah dari program rumah tidak layak huni tahun 2018. Meski telah lanjut usia namun Mbah Semi masih giat bekerja membuat kerupuk beras dengan upah seikhlasnya. “Kalau umur saya tidak tahu, pokoknya saya masih ingat ada tentara belanda masuk desa sini. Saya diajak ibu jualan jagung di jalan desa, saya digendong tentara dibawa lari menyelamatkan diri. Ini tadi pulang dari membuat opak, upahnya seikhlasnya kadang sehari Rp 5.000 untuk beli beras, “ ujarnya Minggu (28/1/204).

Di rumah Mbah Semi atau masyarakat memanggilnya semi pendek karena tingginya hanya sekitar 1 meter, hanya didapati 3 lemari tua yang digunakan menjadi penyekat kamar 4X6 menjadi 2. Dirumah tersebut Semi hanya tinggal sebatang kara, anak satu satunya laki laki sudah meninggal lama menyusul kemudian suaminya juga meninggal. Dibalik lemari yang sudah usang berisi baju baju lama yang warnanya sudah memudar, terdapat 2 dipan yang satu berisi kasur kapuk yang lepek dilapisi seprei putih yang warnanya berubah kecoklatan dan dipan disampingnya yang berisi barang barang miliknya. Diruang tamu tidak ada meja kursi, hanya bekas sisa susanan batu dan sisa arang bekas pembakaran di lantai . “Kadang masak disitu kalau hujan. Biasanya masak di depan pintu kalau tidak hujan,” imbuhnya.

Baca Juga:  BPBD Magetan Optimalkan Sistem Peringatan Dini, Pantau Longsor hingga Banjir 24 Jam

Di samping kiri rumah mbah Semi terdapat bekas reruntuhan dinding batu bata bangunan rumah lamanya yang sudah lama ambruk karena sudah tua. Sebagian dindingnya digunakan sebagai dinding dapur yang kondisinya sangat mengkhawatirkan karena atap dapur tersebut juga sudah lapuk dan sebagain gentingnya sudah jatuh. Di ujung terdapat kamar mandi yang terlihat berantakan dengan kondisi lantai yang becek. ”Kalau mau ke belakang ada airnya itu baru saya isi kebetulan sanyo tetangga nyala. Kalau tidak nyala ya mencari air di rumah tetangga,” katanya.

Baca Juga:  Lepas 10.000 Bibit Ikan, Anggota Komisi IV DPR RI Riyono Caping: Desa Terung Geliatkan Roda Perekonomian Melalui Embung Sidomas

Alasan Semi memask di ruang tamu dan di depan pintu rumahnya yang diberi teras dari seng karena dapurnya sudah sangat mengkhawatirkan. “Takutnya ambruk makanya memilih masak di depan pintu,” jelasnya.

Di meja kecil di samping kasur kumalnya terdapat dipan lebih kecil tempat menaruh sejumlah barang dan meja kecil. Di meja kecil terlihat tempat nasi yang didalamnya berisi nasi yang sudah dingin. Semi mengaku hari ini belum memasak karena tak memiliki uang untuk beli beras. “Itu nasi dikasih tetangga kemarin. Hari ini belum masak karena beras habis, sebentar mau ngutang ke toko didepan sana,”ucapnya.

Namanya tak muncul sebagai penerima bantuan beras.

Sudah beberapa hari ini Mbah Semi mengaku melihat para tetangga menerima kertas kupon daftar sebagai penerima beras miskin 10 kilogram yang akan diberikan dari Bulan Januari hingga Bulan Juni mendatang. Sayangnya namanya tak tercantum di data Penyasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem P3KE sebagai salah satu penerima beras miskin. “Tetangga sudah menerima kupon katanya mau dapat beras 10 kilogram. Nama saya juga tidak ada,” ucapnya.

Baca Juga:  Gubernur Khofifah Indar Parawansa meminta Walikota dan Bupati Cek Distributor Terkait Mahal dan Langkanya Minyak Goreng.

Semi mengku sejak covid 19 hilang, namanya juga hilang dari daftar penerima bantuan beras. Dia mengaku untuk mencukupi kebutuhan makan selain bekerja sebagai buruh pembuatan kerupuk beras juga mengharap bantuan dari para tetangganya. “Kadang kalau selamatan dikasih berkat, kalau tidak yang ngutang di toko yang ada diperempatan sana. Paling 1 kilo itu isinya 3 kaleng bisa untuk makan beberapa hari,” katanya.

Meski di tahun 2018 menerima bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni, namun jika hujan turun disertai dengan angin kencang Mbah Semi mengaku lebih memilih mengungsi di rumah tetangga karena tempias dan takut bagian dapur rumahnya roboh. “Kadang ya duduk diteras sambil menunggu agak reda baru nginap di rumah tetangga,” pungkasnya.(DmS)

VISUAL NEWS klik

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM