RASI MEDIA – Menu telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mulai dikurangi frekuensinya. Jika sebelumnya telur dapat disajikan hingga tiga kali dalam sepekan, Satgas MBG Magetan kini merencanakan menu tersebut diberikan maksimal dua kali dalam sepekan.
Petugas Satgas MBG Magetan Awang Arifaini Rudin mengatakan pengurangan itu dilakukan setelah muncul keluhan siswa yang mulai bosan dengan menu telur. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat makanan tidak dikonsumsi dan berakhir menjadi food waste. “Anak-anak bosan. Kedua, akhirnya tidak dimakan dan menimbulkan food waste, makanan yang terbuang,” kata Awang.
Menurut Awang, kebutuhan telur untuk sekali konsumsi MBG di Magetan mencapai sekitar 7 ton. Dengan frekuensi dua kali dalam sepekan, kebutuhan telur tetap mencapai sekitar 14 ton per minggu. “Sekali konsumsi hitungan kita tujuh ton. Dua kali berarti ada 14 ton per minggu,” ujarnya. Telur tersebut diupayakan berasal dari peternak lokal Magetan dengan mengacu pada harga acuan pemerintah (HAP). “Dari 14 ton itu juga telur Magetan dengan harga HAP,” kata Awang.
Awang mengatakan penyesuaian menu tersebut bukan berarti mengurangi kebutuhan gizi siswa, melainkan memastikan makanan yang disediakan benar-benar dikonsumsi. SPPG juga didorong menyerap bahan pangan dari wilayah terdekat, termasuk telur dan sayuran dari peternak maupun petani lokal. “Harapannya seperti itu. Anak-anak tidak bosan, terus mengurangi limbah pangan,” ujarnya.