Connect with us

Magetan's

Sulit Dapatkan Lumpur Aktif, LIK Magetan Gunakan Tinja Sebagai Bahan Mikroorganisme Pengolah Limbah.

Published

on

Sulit Dapatkan Lumpur Aktif, LIK Magetan Gunakan Tinja Sebagai Bahan Mikroorganisme Pengolah Limbah.

Rasi Fm – Masih minim fasilitas membuat UPT Industri Kulit dan Produk Kulit Magetan terpaksa melakukan berbagai inovasi termasuk memanfaatkan limbah WC untuk mengurai limbah hasil pengolahan samak kulit. Bagian Pengolahan Limbah UPT Kulit Astinari mengatakan, pada awalnya UPT LIK menggunakan lumpur aktif untuk menguraikan kandungan limbah pada air limbah buangan IMK dalam proses mengolah samak kulit. Sebelumnya pihak LIK membeli lumpur aktif untuk menguraikan air limbah, namun karena sulitnya mendapatkan lumpur aktif membuat LIK melakukan inovasi dengan memanfaatkan mikroorganisme pada limbah wc.
Untuk menjadikan limbah wc menjadi lumpur aktif dibutuhkan adaptasi selama 2 bulan dan penambahan oksigen agar limbah wc bisa dimanfaatkan mengolah limbah menjadi lumpur aktif.
“Jadi kita menggunakan mikroorganisme yang ada di tinja itu untuk mengurai limbah kulit. Kita adaptasikan dulu, kita biakkan dulu kita tambahkan oksigen, nanti lama kelamaan akan menjadi lumpur aktif itu. Dua bulan itu sudah bisa jadi lumpur aktif tinggal dibiakkan,” ujarnya.
Astinari menambahkan, sebelum menggunakan limbah wc, UPT LIK sempat melakukan percobaan dengan menggunakan kotoran sapi sebagai pengembang mikroorganisme pengurai limbah pengolahan kulit, namun tidak berhasil karena air buangan limbah tetap berbau menyengat. UPT kemudian melakukan ujicoba dengan menggunakan limbah kotoran dari WC hingga berhasil seperti saat ini.
“ Awalnya pakai kotoran sapi tetapi kita tidak berhasil kemudian kita pakai tinja. Kita kepepet juga waktu itu harus beli dimana, sempat kita tidak pakai hasilnya tetap bau. Kita coba coba kok berhasil akhirnya pakai itu,” imbuhnya.
Untuk pengolahan limbah yang memiliki PH tinggi UPT menggunakan asam sulfat, sementara untuk penjernihan menggunakan tawas dan poliflok dan anti foam untuk mengatasi busa dari limbah. Air limbah dari IMK itu PHnya tinggi sekitar 9 sampai 12 kita turunkan menjadi 7 sampai 8.
UPT LIK Kabupaten Magetan, setiap tahun mengolah 137.000 meter kubik limbah samak kulit dari 35 Industri Kecil dan Mikro yang berada di lingkungan LIK. Limbah sebanayk 137.000 meter kubik terdiri dari limbah cair dan lumpur.
UPT LIK saat ini baru mampu mengolah limbah cair dan masih kesulitan mengolah limbah lumpur karena belum memiliki alat untuk memproses lumpur. Pada tahun 2020 pemerintah Provinsi Jawa TImur telah mengeluarkan anggaran sebesar 2 milyar rupiah untuk membeli alat belprest dan slatdryer mesin, tetapi di Bulan Maret ada pandemi sehingga anggaran itu difocuskan untuk menagani pandemi covid 19.(DmS).

Baca Juga:  Klub Sepak Bola Persemag Magetan Akan Berlaga di Divisi Liga 3, Agustus Mendatang.

 312 total views,  9 views today