Budaya & Pariwisata

Sunyinya Geliat Sastra, Pecinta Sastra di Magetan Terbitkan Buku Iman Budhi Santosa dan Gelar Festifal Seni.

Published

on

RASI FM – Hio yang terbakar mengepulkan asap tipis ditengah terpaan angin basah dari hujan turun rintik rintik di halaman perpustakaan dbuku, perpustakaan milik Diana Amalliyah Verawatiningsih atau biasa disapa Sasa di Jl Kenongo no 27, Kelurahan Mangkujayan, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur Minggu sore (03/12). Halaman yang berukuran 9X6 terasa sempit oleh puluhan kursi dan panggung kecil yang berada di bagian Barat halaman yang berisi kursi serta patung Iman Budhi Santosa dengan tangan dari ranting bambu yang bergantungan sejumlah buku karyanya. Malam itu puluhan penikmat sastra tak hanya dari Kabupaten Magetan, namun dari sejumlah daerah seperti dari Madiun, Yogyakarta, Sleman, Bantul, Magelang, Gunung Kidul dan Sumenep menyesap kegiatan festival satra yang memang jarang terjadi di wilayah perbatasan Jawa Timur – Jawa Tengah tersebut.

“Kita memang masih miskin kegiatan sastra, padahal sejumlah satrawan besar lahir di Magetan,” ujar Sasa ditengah menikmati penampilan baca puisi oleh santi, salah satu penggiat menulis sastra di Magetan Minggu (3/12/2023).

Parade sastra yang digelar DBuku merupakan bagian dari festival sastra yang digelar hari Sabtu dan Minggu. Sebelumnya puluhan penulis di Magetan mengikuti kegiatan workshop penulisan.

“Jarang terjadi kegiatan seperti ini. Saya berharap tahun depan harus ada lagi, karena kita butuh untuk meningkatkan kualitas sastra kita,” Ujar Muhammad Ainun Najib salah satu peserta.

Festival sastra yang digelar menurut Walida Tanjung Files, salah satu penulis dan juga musisi yang memusikalisasi karya puisi Iman Budhi Santosa mengatakan, festival sastra yang digelar sebagai ajang untuk menikmati karya sastra dari sudut yang berbeda dengan musikalisasi yang dilakukannya. Kegiatan Festival sastra yang dilakukan menurutnya membuka peluang bagi penulis di Magetan untuk menggali potensi yang mereka miliki.

”Saya membawakan resital dari salah satu puisi Iman Budhi santosa untuk mewakili dari suasana puisi melalui instrumen musik agar dipahami lebih mudah oleh penonton,” katanya.

Selain kegiatan worshop dan parades satra, Festival sastra yang digelar DBuku juga meluncurkan buku berjudul Magetan : Bumi Kelahiran, karya dari Iman Budhi Santosa yang belum sempat diterbitkan oleh sastrawan yang cukup berpengaruh tersebut sebelum wafat pada 10 Desember 2020 di Yogyakarta. Melalui peluncuran buku yang diterbitkan oleh yayasan dbuku bakti bangsa bekerja sama dengan penerbit interlude, Sasa selaku pendiri yayasan mengatakan, buku karya Iman Budhi Santosa bisa menjadi ikon Kabupaten Magetan untuk melecut sepinya kegiatan sastra.

“Ternyata Almarhum Iman Budhi santosa itu lahir di Magetan, saya juga baru tahu. Kita juga punya penulis hebat seperti Okky Madasari pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2012 untuk novelnya Maryam. Tapi Magetan sepi dari hiruk pikuk kegiatan seni sastra,” imbuhnya.

Terbitnya buku Magetan : Bumi Kelahiran menurut Sasa diharapkan menjadi lentikan semangat untuk penulis di Magetan agar bisa merunut jejak sukses Iman Budhi Santosa yang sangat mempengaruhi dunia sastra saat ini. Buku Magetan : Bumi Kelahiran merupakan tulisan biografi pribadi sang penulis yang merunut perjalanan dari lahir hingga lulus SMP yang dihabiskan hidup bersama ibu dan kakek serta neneknya sebelum pindah menetap di Yogyakarta. Mantan Bupati Magetan Suprawoto yang ikut hadir dalam keigatan festival sastra tersebut mengapresiasi kegiatan festival sastra yang diadakan, apalagi DBuku juga meluncurkan buku dari kisah penulis besar Iman Budhi Santosa.

“Ini karya terakhir beliau seperti riwayat hidupnya tetapi ditulis dalam bahasa yang indah. Ditangan mas Iman pitutur simbahnya itu ditulis dengan indah, itulah kalau sastrawan menulis,” katanya.

Dalam catatan Latief S Nugraha selaku editor, buku Magetan : Bumi Kelahiran yang mulai disusun awal tahun 202 tersebut rencananya akan menjadi buah tangan Iman Budhi Santosa menakala pulang ke Magetan. Sejumlah rekan di Yogyakarta dan Magetan bahkan telah menyiapkan sebuah acara di kaki GUnung Lawu sebagai penanda ulang tahun ke 72. Sayangnya wabah covid 19 membuat rencana peluncuran buku riwayat hidup sang penulsi tak bisa tertunaikan.

“Sebuah kasunyatan yang amat disesalkan , bahwa cita cita itu tak terlaksana hingga Iman Budhi Santosa tutup usia pada 10 Desember 2020,” ujarnya.

Sementara ketua yayasan DBuku bakti bangsa Luky Setyo Herman mengatakan, kegiatan festifal sastra yang diselenggarakan bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Direktorat Pendidikan , Kebudayaan, Riset dan Tekhnologi merupakan rangkaian dari menggeliatkan literasi dan penulisan sastra di Kabupaten Magetan yang selama ini cukup sepi meski Kabupaten Magetan memiliki sejumlah penuiulis hebat. Dari peluncuran buku karya Iman Santosa dengan judul Magetan : bumi kelahiran yang merupakan merupakan trilogy yang akan dirilis bertahap diharapkan akan bisa memecahkan kesunyian kegiatan sastra di Magetan sehingga bisa kembali lahir satrawan sekelas Iman.

“Buku ini bagian dari trilogy perjalanan Iman Budi Santosa yang menceritakan masa kecil masa kelahiran beliau, setelah itu perjalanan beliau. Kota Magetan adalah kota bersejarah bagi beliau dimana beliau pondasinya sebelum menjadi orang besar ada di Magetan. Hal kecil yang membentuk beliau sebelum menjadi orang besar itu prosesnya ada di Magetan,” katanya.

Meski lahir di Kabupaten Magetan, namun masih banyak warga Magetan yang belum tahu sosok satrawan yang telah menulis ratusan judul buku tersebut. “Mas Imam di dunia sastra sudah suhu seperti Landu Paranggi, ternyata beliau orang Magetan. Saya langsung kepikiran ini bisa diangkat sebagai ikon dunia sastra, karena beliau lahir di Magetan berproses awal dan besar di Magetan. Saya rasa masyarakat Magetan perlu mengetahui bahwa dari Magetan ada satrawan yang diperhitungkan di dunia sastra,” pungkas Sasa pengagas kegiatan Festival Sastra. (DmS)

Click to comment

Trending

Exit mobile version