Pendidikan

Faktor Ekonomi Jadi Penyebab Utama Lebih dari 100 Anak di Magetan Masih Tidak Sekolah.

Published

on

RASI MEDIA – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Magetan mencatat lebih dari 100 anak usia sekolah di wilayahnya masih belum mengenyam pendidikan. Sebagian besar dari mereka tidak bersekolah karena terkendala kondisi ekonomi keluarga. Kepala Dindikpora Magetan Suhardi mengatakan, berdasarkan pendataan sementara, jumlah anak yang tidak sekolah masih berada di kisaran seratus lebih. Data tersebut masih terus diperbarui. “Anak yang tidak sekolah itu masih ada. Data kami sekitar seratusan lebih,” kata Suhardi, Selasa (21/7/2026).

Menurut dia, penyebab terbesar anak tidak bersekolah adalah faktor ekonomi. Banyak anak yang memilih membantu orang tua bekerja dibanding melanjutkan pendidikan. “Faktor utamanya ekonomi. Anak diminta membantu orang tua bekerja. Kasus seperti itu masih kami temukan, terutama di beberapa wilayah,” ujarnya.

Selain persoalan ekonomi, Dindikpora juga menemukan anak yang tidak melanjutkan pendidikan karena mengalami gangguan psikologis. Kondisi tersebut membuat mereka enggan mengikuti pembelajaran di sekolah. Untuk menangani persoalan itu, Dindikpora menyiapkan sejumlah langkah. Anak-anak dari keluarga kurang mampu diarahkan mengikuti pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan skema afirmasi. “Kami arahkan mereka ke Paket C melalui PKBM. Kami juga meminta PKBM menerima anak-anak dari keluarga afirmasi, jangan semuanya berbayar,” kata Suhardi.

Sementara bagi anak yang mengalami gangguan psikologis, Dindikpora menggandeng guru pendidikan khusus untuk memberikan layanan belajar dari rumah atau homeschooling. “Kalau ada anak yang mengalami gangguan psikologis, kami lakukan pembelajaran di rumah. Kami menggandeng guru-guru pendidikan khusus agar mereka tetap mendapatkan hak belajar,” ujarnya.

Dindikpora Magetan juga menggandeng penyelenggara pendidikan nonformal agar anak tetap bisa melanjutkan pendidikan melalui program kesetaraan. “Kami arahkan mereka ke Paket C dan meminta PKBM menerima anak-anak dari keluarga afirmasi. Untuk anak yang mengalami kendala psikologis, kami lakukan pembelajaran di rumah dengan pendampingan guru,” tutur Suhardi.

Click to comment

Trending

Exit mobile version