Budaya & Pariwisata

Cerita Pak Rus 25 Tahun Jualan Tiwul Goreng di Telaga Ngebel, Pertahankan Kuliner Tradisional Khas Ponorogo .

Published

on

 

RASI MEDIA  – Asap tipis mengepul dari wajan besi di tepi Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Di balik wajan itu, Pak Ruslan atau terkenal dengan Pak Rus berdiri tenang sambil mengaduk tiwul goreng, menu tradisional yang telah ia jual selama 25 tahun terakhir. Sejak pagi hari, tepat pukul 08.00 WIB, ia mulai membuka lapaknya yang sederhana namun selalu ramai disinggahi wisatawan. Hingga malam tiba pukul 21.00 WIB, Pak Rus setia menjaga cita rasa tiwul goreng yang membuat namanya dikenal di kawasan wisata Telaga Ngebel. Di tengah perubahan zaman dan menjamurnya kuliner modern, ia tetap bertahan dengan menu tradisional berbahan singkong tersebut.

Pak Rus mengaku memulai usaha tiwul goreng sejak kawasan Telaga Ngebel belum seramai sekarang. Ia memilih bertahan di satu tempat, mengandalkan rasa dan kepercayaan pelanggan. “Yang penting konsistensi. Rasa jangan berubah,” ucapnya sambil menyiapkan pesanan Jumat (25/12/2026).

Setiap hari, ia melayani wisatawan lokal hingga luar daerah yang datang silih berganti. Meski hanya mengandalkan lapak kecil di pinggir telaga, Pak Rus mampu menjaga keberlangsungan usahanya selama seperempat abad, menjadikan tiwul goreng sebagai identitas dagangannya. “ Jualan disini baru 25 tahun,” katanya disusul tertawa renyah.

Tiwul sendiri merupakan makanan tradisional yang berasal dari singkong. Masyarakat mengolah singkong dengan cara mengupas, mengeringkan, lalu menumbuknya hingga menjadi butiran kasar. Setelah itu tiwul dikukus hingga matang dan menyerupai nasi. Di tangan Pak Rus, tiwul kukus tersebut kembali diolah menjadi tiwul nasi goreng. Ia menumis bawang merah, bawang putih, dan cabai, lalu memasukkan tiwul bersama bumbu pelengkap hingga tercipta aroma khas yang menggugah selera. “ Sama dengan nasi goreng, bedanya nasinya diganti tiwul. Untuk topingnya juag sama, ada telur atau ayam suwir,” jelasnya.

Pak Rus menyebut tiwul goreng memiliki keunggulan kesehatan dibandingkan nasi goreng berbahan beras. Kandungan serat dalam singkong lebih tinggi, sehingga membantu pencernaan dan membuat perut terasa kenyang lebih lama. Selain itu, tiwul memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih, sehingga tidak cepat menaikkan kadar gula darah. Karena alasan itu, sebagian pelanggan memilih tiwul goreng sebagai alternatif makanan yang lebih sehat. “ Biasanya ibu ibu yang diet memilih menu tiwul goreng ini dibandingkan nasi goreng disini,” ucapnya.

Dalan satu hari lapak Pak Rus biasanya bisa menyajikan tiwul goreng sebanyakl 10 hingga 20 porsi. Di lapak sederhanya di pinggir telaga Ngeberl Pak Rus juga menjual nasi goreng dan mi goreng untuk memenuhi selera beragam pengunjung. Dari menu ketiga tersebut, Pak Rus biasanya mampu menyajikan lebih dari 70 porsi makanan setiap hari. Ia mematok harga yang ramah di kantong wisatawan, yakni Rp 10.000 per porsi. Dengan harga tersebut, pengunjung bisa menikmati makanan hangat sambil menyaksikan keindahan Telaga Ngebel yang tenang. “ Harganya ramah pengunjung saja karena kebanyakan yang mampir ke lapak saya wisatawan lokal. Kopi juga hanya Rp 3 ribu,” katanya.

 

Candra, salah satu  wisatawan asal Ngawi, mengaku,  hampir selalu memesan tiwul goreng setiap kali berkunjung ke Telaga Ngebel. Menurutnya, menu tersebut sulit ia temukan di daerah asalnya. Ia menilai tiwul goreng tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memberikan pengalaman kuliner tradisional yang jarang ditemui.“Saya sering pesan tiwul goreng karena di kota saya tidak ada menu seperti ini. Rasanya khas dan berbeda dari nasi goreng,” kata Candra.

 

Bagi Pak Rus, berdagang tiwul goreng bukan sekadar mencari penghasilan. Ia merasa ikut menjaga keberadaan makanan tradisional agar tidak tergeser oleh kuliner instan. Setiap porsi yang ia sajikan membawa cerita tentang ketekunan, kemudahan, dan kearifan lokal. Di tepi Telaga Ngebel, di antara gemericik air dan semilir angin pegunungan, Pak Rus terus menggoreng tiwul, menjaga rasa, merawat tradisi, dan menyambut wisatawan dengan kehangatan yang sama sejak 25 tahun lalu.

Click to comment

Trending

Exit mobile version