Ekonomi

Resmi Ditetapkan Varietas Unggul, BRIN Dorong Pengembangan Durian Saman di Magetan.

Published

on

RASI MEDIA  – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengembangan Durian Saman asal Desa Plangkrongan, Kabupaten Magetan, setelah varietas lokal tersebut resmi ditetapkan sebagai varietas unggul nasional melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian. Peneliti BRIN Cipto Nugroho menilai pengakuan tersebut harus diikuti dengan upaya pelestarian dan pengembangan agar durian lokal tidak tersisih oleh varietas introduksi dari luar negeri. “Di Plangkrongan ini sudah ada durian lokal yang menjadi varietas unggul nasional melalui SK Menteri Pertanian. Setelah SK itu terbit, tugas kita sekarang adalah menindaklanjutinya dengan pengembangan. Jangan sampai kualitas durian lokal ini tergerus oleh varietas introduksi seperti Musang King dari Malaysia atau varietas dari Thailand. Padahal kualitas durian lokal kita tidak kalah dengan mereka,” kata Cipto, Selasa (14/7/2026).

Menurut Cipto, langkah paling mendesak ialah memperbanyak populasi pohon Durian Saman yang saat ini masih sangat terbatas. Dari hasil pendataan BRIN, jumlah pohon produktif baru sekitar 350 batang, sementara permintaan bibit maupun buah terus meningkat dari berbagai daerah. “Reputasi Durian Saman sudah tinggi, permintaannya banyak, tetapi barangnya kurang. Karena itu yang harus dilakukan lebih dulu adalah memperbanyak populasinya. Setelah jumlah pohonnya cukup, baru kita tingkatkan produksinya melalui budidaya yang lebih intensif,” ujarnya.

BRIN juga merekomendasikan perbanyakan tanaman melalui metode top working, sambung pucuk, hingga okulasi agar produksi bisa meningkat lebih cepat dibanding menanam pohon baru dari awal. Selain itu, masyarakat didorong menjadi penangkar bibit resmi agar mutu bibit tetap terjaga. “Kalau ingin mempercepat produksi, pohon durian yang sudah ada bisa disambung dengan entres Durian Saman. Di sisi lain, pembibitan juga harus terus berjalan dengan standar penangkaran yang baik sehingga kualitas bibit tetap terjamin,” ucap Cipto.

Ia memperkirakan populasi ideal Durian Saman sedikitnya mencapai lebih dari 1.000 pohon agar mampu memenuhi kebutuhan pasar. Menurutnya, jumlah tersebut bukan patokan baku, tetapi disesuaikan dengan perkembangan permintaan. “Kalau melihat potensinya, paling tidak seribuan pohon ke atas sudah cukup baik. Yang menentukan sebenarnya pasar. Semakin tinggi permintaan, tentu populasinya juga harus terus ditambah,” katanya.

Cipto menambahkan, produktivitas Durian Saman dalam dua tahun terakhir ikut terdampak perubahan iklim. Curah hujan yang tinggi menyebabkan proses pembungaan terganggu sehingga banyak bunga rontok sebelum menjadi buah. “Durian membutuhkan masa kering untuk merangsang pembungaan. Kalau hujan terus-menerus, bunga banyak yang rontok dan penyerbukan tidak berlangsung sempurna sehingga produksi buah menurun,” jelasnya.

Lebih jauh, BRIN bersama Pemerintah Desa Plangkrongan tengah menyiapkan konsep kawasan agropolitan berbasis Durian Saman. Menurut Cipto, komoditas unggulan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk untuk menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus mengembangkan komoditas pertanian lainnya. “Goal kami membuka wawasan masyarakat bahwa Durian Saman harus terus dikembangkan. Ke depan, Durian Saman diharapkan menjadi penggerak terbentuknya kawasan agropolitan sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Plangkrongan,” ujarnya.

Cipto menegaskan, Durian Saman layak bersaing dengan varietas premium dunia karena memiliki sedikitnya lima karakter unggul hasil penelitian BRIN. “Durian Saman memiliki rasa manis, daging buah tebal, sekitar 50 persen bijinya kempes, kadar gula dan vitamin C tinggi, serta edible portion atau bagian yang bisa dimakan sangat tinggi. Buahnya juga kering, tidak lembek, sehingga menurut kami sangat kompetitif dan bisa bersaing dengan Musang King maupun Montong,” kata Cipto.

Click to comment

Trending

Exit mobile version