RASI MEDIA – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, melakukan sejumlah upaya untuk mengantisipasi banjir menjelang musim hujan. Upaya tersebut meliputi pembuatan sudetan, pelebaran saluran air, perbaikan saluran yang rusak, hingga pembangunan talut dan pemasangan bronjong di sejumlah titik rawan longsor.
Kepala DPUPR Magetan Muhtar Wahid menjelaskan, pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah yang rawan banjir dan longsor. Penanganan titik-titik banjir sebelumnya dilakukan menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 2,5 miliar untuk bidang Bina Marga dan Sumber Daya Air. “Untuk mengantisipasi banjir, kami sudah membuat dua sudetan di wilayah Cepoko. Air dari Terung yang sebelumnya meluap kami alihkan ke Kali Saddon, sehingga tidak lagi menggenangi wilayah tersebut,” ujarnya.
Selain membuat sudetan, DPUPR Magetan juga memperlebar saluran air di belakang Samsat dari semula dua meter menjadi lima meter menggunakan alat berat milik PU. Saluran di kawasan perumahan yang sebelumnya terdampak banjir juga telah ditinggikan untuk mengurangi risiko luapan air.
Penanganan serupa dilakukan di kawasan selatan SMP Negeri 4 serta di sebelah timur Gedung Opat. Di lokasi tersebut, DPUPR telah memperbaiki saluran dan membangun tanggul untuk mencegah luapan air yang berpotensi merusak lahan pertanian warga.
Sementara itu, penanganan banjir di wilayah Balai Asri hingga depan SMP Negeri Ngariboyo akan dilaksanakan melalui anggaran Perubahan APBD (P-APBD) 2026 sebesar Rp 1,3 miliar. Pekerjaan tersebut meliputi pembangunan saluran permanen sekaligus pelebaran saluran yang sebelumnya berupa tanah. “Di Ngariboyo, saluran yang sebelumnya masih berupa tanah akan kami buat menjadi saluran pasangan. Sekaligus kami lebarkan agar mampu menampung aliran air ketika hujan deras,” katanya.
Selain mengantisipasi banjir, DPUPR Magetan juga menangani sejumlah titik rawan longsor. Namun, upaya mitigasi pencegahan longsor secara menyeluruh masih terkendala keterbatasan anggaran. Salah satu penanganan dilakukan di wilayah Panekan, setelah kebocoran pipa PDAM menyebabkan tanah di sekitar lokasi menjadi basah dan mengalami longsor. Petugas telah membersihkan material longsoran serta melakukan penanganan pada badan jalan dan membangun talut. “Kebocoran pipa menyebabkan tanah terus-menerus basah sehingga akhirnya longsor. Untuk sementara, material longsoran sudah kami bersihkan dan bagian jalan sudah kami tangani dengan pelebaran serta talut,” ujarnya.
DPUPR juga memasang bronjong di sejumlah lokasi, antara lain Selotinatah dan ruas jalan Ngariboyo–Parang, untuk memperkuat tanah serta mengurangi risiko longsor. Terkait saluran irigasi di Panekan, DPUPR akan mengupayakan agar aliran air kembali melalui saluran irigasi yang tersedia. Pipa yang sebelumnya bocor akan disambung kembali sehingga aliran air tidak lagi membasahi tanah di sekitar jalan.
Ia menambahkan, kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu dilakukan bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait. Pemerintah daerah juga mengandalkan anggaran BTT untuk menangani kejadian darurat yang tidak dapat diprediksi. “Mitigasi bencana sangat diperlukan dan sebagian sudah kami lakukan. Namun, bencana seperti tanah longsor atau kebocoran pipa terkadang tidak bisa diprediksi. Karena itu, ketika terjadi bencana, kami harus segera bersiaga bersama BPBD dan pihak terkait untuk melakukan penanganan,” katanya.