News

Cerita Para Perajang Daun Pandan untuk Bunga Tabur Makam, Rela Tidur di Trotoar Demi Momen Istimewa Lebaran

Published

on

 

RASI MEDIA  – Terik matahari siang menggantung tepat di atas trotoar pinggir jalan Pasar Sayur Magetan, Jawa Timur. Panas memantul dari aspal, menyengat kulit siapa pun yang berlama-lama di sana. Deru kendaraan tak pernah putus, truk pengangkut sayur, sepeda motor, hingga mobil pribadi saling bersahutan, menciptakan kebisingan yang konstan. Namun di tengah kondisi itu, para perempuan penjual bunga tabur tetap bertahan. Mereka duduk bersila di atas tikar tipis, merajang daun pandan dengan ritme yang nyaris tak terputus, seolah panas dan bising telah menjadi bagian dari keseharian.

Sarmi, warga Desa Sumber Sawit, menjadi salah satu yang paling sibuk siang itu. Tangannya bergerak cepat, memotong daun pandan menjadi irisan halus yang kemudian ditumpuk rapi. Ia mengaku sudah dua hari tidak pulang dan  memilih tidur di trotoar tempat lapaknya jualan demi menjaga dagangan dan mengejar momen jelang Lebaran. “Panas, bising, ya sudah biasa. Yang penting dagangan jalan. Kalau momen seperti ini dilewatkan, sayang sekali,” ujarnya ditemui dilapak daganganya berupa hamparan dari karung bekas dipinggir jalan Kamis (19/3/2026).

Dalam sehari, ia mengaku mampu merajang hingga 50 senik yang dijual Rp50 ribu per senik. Dari dua hari berjualan, ia mengaku bisa mengantongi uang sekitar Rp5 juta. “Ini buat beli baju anak-anak sama kebutuhan Lebaran. Lumayan, bisa bikin senang keluarga,” katanya sambil sesekali mengusap keringat di dahinya.

Dihari seperti ini, Sarmi mengaku mengabaikan rasa penat di kedua tangannya karena harus terus merajang daun pandan untuk dicampur bunga mawar sebagai bunga tabur makam. Dai emgnaku akan mengganti penat hari ini dengan beristirahat di hari Raya Lebaran.“ Ini dari tadi sampai kosong karena sudah habis terjual. Setiap merajang kita kemas di kresek langsung laku. Capek iya, tapi kita ganti dengan istirahat besok,” imbuhnya tersenyum senang.

Daun pandan laku Rp 50.000 perikat.

Tak jauh dari Sarmi, Sademi (65) warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan tampak sibuk memilah milah ikatan daun pandan dengan  lebih tenang. Ia duduk di atas tikar lusuh, dikelilingi ikatan daun pandan dari kebunnya sendiri. Perempuan sepuh ini sudah puluhan tahun lalu menjalani pekerjaan serupa dan hanya berjualan di waktu-waktu tertentu ketika harga daun pandan melonjak naik. “Saya tidak tiap hari jualan. Nunggu momen saja, seperti sekarang ini atau Hari Kamis Kliwon saat harag bunga mawar untuk tabur makam melonjak naik,” katanya.

Di hari biasa, pandan hanya laku Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per ikat bahkan tidak laku jika harag bunga mawar murah. Namun menjelang Lebaran harganya bisa menembus Rp50 ribu perikat. Disaat saat seperti itu, biasanya dia akan memanen semua tanaman daun pandan di kebunn miliknya. “Sehari bisa habis 50 ikat kalau menjelang lebaran seperti ini. Kalau hari biasa tidak laku. Kalau laku ya murah sekali. Alhamdulillah, nanti uangnya buat sangu anak sama cucu lebaran,” ujarnya dengan tersenyum.

Tiga hari tidur di lapak trotoar demi momen lebaran.

Di sisi lain trotoar, Darti dari Desa Turi, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetasn terlihat tak kalah sibuk. Plastik-plastik berisi bunga tabur tersusun di depannya, siap dibawa para peziarah makam. Ia mengaku sudah tiga hari terakhir tidur di trotoar pinggir jalan lapak jualannya  demi memaksimalkan penjualan. “Kalau pulang, capek di jalan. Jadi sekalian di sini saja, bisa jualan dari pagi sampai malam,” tuturnya.

Dalam sehari, ia mengaku mampu menjual hingga 75 kresek bunga tabur seharga Rp5 ribu. Ia meracik sendiri bunga tabur makam  dagangannya dari daun pandan yang dipetik dari kebun milik sendiri dan mencampur dengan bunga mawar yang dibeli dari tengkulak. “ Kalau daun pandannya bawa dari ekbun sendiri, tapi bunga mawarnya beli dari pedagang satu kresek Rp 150.000. Itu harag termasuk murah, kemarin jelang puasa sampai Rp 300.000 persenik,” katanya.

Meski tidak jualan bunga tabur makam setiap hari, Darti mengaku berjualan di setiap moment harga bunga melambung tinggi karena banyaknya warga membutuhkan bunga tabur makam. Dia hanya berjualan disaat malam 1 suro atau pergantian tahun jawa, hari kemis kliwon atau jumat legi, jelang puasa dan jelang lebaran. “ Milih hari dimana banyak ornag yang butuh bunga tabur makam. Kalau sehari hari saya memabntu suami bertani di sawah,” ucapnya.

Panen petani bunga mawar

Sementara itu, Darmadi, petani  bunga mawar dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo Kabupaten Magetan juga memanfaatkan momen yang sama. Ia menjual bunga mawar hasil kebunnya sendiri dalam kemasan kresek seharga Rp70 ribu. “Kalau dijual ke tengkulak murah sekali, cuma Rp2 ribu per kilo. Jadi momen seperti ini sangat membantu,” ujarnya.

Dalam sehari, ia mengaku bisa menjual sekitar 10 kresek bunga mawar hasil kebunnya. Dia mengaku senang jika bunga yang ditanamnya laku dengan harga tinggi sehingga bisa membahagiakan keluarganya di desa. “ Ya senang kalau laku mahal, tapai itu kan hari hari tertentu saja. Bagaimanapun kita bersukur di hari lebaran ini bisa membelikan anak cucu bajulebaran dari hasil menanam bunga mawar,” ucapnya.

Darmadi mengaku masih ada satu hari lagi moment harga bunga mawar mencapai Rp 70.000 perseni sebelum hari raya. Dia bahkan optimis harag bunga mawar besok akan lebih tinggi lagi. “ Masih ada besok dan kemungkinan akan lebih mahal lagi karena besok hari terakhir orang mencari bunga tabur makam sebelum hari raya lebaran,” pungkasnya.

Bagi mereka, trotoar panas dan bising itu bukan sekadar tempat berjualan, tetapi ruang perjuangan tempat di mana harapan untuk menyambut Lebaran dengan lebih layak dirajut, dari wangi pandan dan bunga mawar yang sederhana.

Click to comment

Trending

Exit mobile version