RASI MAGETAN – Angin dingin Telaga Ngebel Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur menyambut Ana Siva ketika ia menurunkan standar sepeda di tepi danau. Wisatawan asal Kabupaten Ngawi itu tersenyum kecil sambil menatap air telaga yang berkilau diterpa cahaya pagi. Untuk pertama kalinya, Ana menginjakkan kaki di Telaga Ngebel dan untuk pertama kalinya pula, ia mencoba bersepeda mengelilingi telaga yang terletak di lereng Gunung Wilis itu.
Keinginan Ana datang ke Ngebel berawal dari layar ponsel. Sebuah video TikTok menampilkan deretan sepeda bergaya Jepang, sepeda jengki dengan keranjang di depan, berjejer rapi di pinggir telaga. Visual itu langsung menarik perhatiannya. “Ala-ala Jepang,” begitu pikir Ana saat pertama kali melihatnya. Budaya bersepeda warga Jepang yang tertib, sederhana, dan estetis menjadi daya tarik tersendiri. “ Baru pertama kali ke sini,” ujar Ana sambil tersenyum ditemui di pinggir Telaga Ngebel Kamis (25/12/2025).
Ia mengaku sengaja menyewa sepeda karena ingin merasakan sensasi berbeda menikmati Telaga Ngebel. Dengan biaya sewa Rp20.000 per jam, Ana bisa berkeliling sekaligus berhenti di sejumlah titik untuk berfoto. “Agak capek, tapi ada kegiatannya. Jadi nggak cuma duduk,” katanya.
Bagi Ana, bersepeda bukan hanya soal olahraga. Sepeda menjadi medium menikmati alam dengan tempo pelan mengayuh, berhenti, lalu kembali melaju.
Telaga dari Atas Sadel
Di lintasan yang sama, Tasya, warga lokal Ponorogo, mengayuh sepedanya dengan ritme santai. Ia memilih bersepeda karena ingin menikmati Telaga Ngebel secara lebih utuh. “Kalau naik sepeda, kita lebih menikmati,” ucapnya.
Sebagai warag lokala Tasya mengaku bukan kali pertama datang ke Ngebel. Ia sudah dua kali berkunjung dan selalu memilih sepeda sebagai cara berkeliling. Menurutnya, bersepeda membuat mata lebih leluasa menangkap detail indahnya pemandangan, riak air telaga, kabut tipis yang turun perlahan, hingga aroma kuliner yang mengepul dari warung-warung ikan bakar di pinggir telaga.
Bagi wisatawan seperti Tasya, sepeda menghadirkan pengalaman yang berbeda dari sekadar swafoto. Tubuh ikut bekerja, napas ikut berirama, dan pikiran menjadi lebih tenang. Telaga Ngebel tak lagi sekadar latar belakang, melainkan ruang hidup yang benar-benar dirasakan. “ Ya kayak di film Jepang. Sepeda itu jadi bagian transportasi. Kalau disini agak susah ya jadi budaya harian kita. Tapi lumayanlah di Telaga Ngebel kita bisa menikmati bersepeda dengan pemangdangandan lingkunganyang indah,” jelasnya.
Sementara Agustina, wisatawan asal Magetan juga tampak menikmati kayuhan pertamanya di Ngebel. Ia mengaku baru pertama kali berkunjung, namun sudah mengetahui adanya fasilitas sepeda dari TikTok. “Biar sehat, tapi juga cari sensasi lain,” katanya.
Agustina menyebut bersepeda mengelilingi telaga memberikan sudut pandang yang lebih pribadi. Ia bisa berhenti kapan saja, mengatur jarak, dan merendam suasana tanpa tergesa-gesa. Tren bisa datang dari media sosial, tetapi pengalaman yang ia rasakan jauh lebih nyata. “ Tahunya dari tiktok, kok bagus banget menikmati keindahan Telaga Ngebel dengan sepeda. Kayak di Jepang. Apalagi suasans di Telaga Ngebel indah banget menikmati Tel;aga sambil bersepeda. Di foto bagus banget,” ujarnya sambnil memperlihatkan beberapa jepretan memamerkan keindahan Telaga Ngebel dengan sepeda jengki yang digunakan.
Di sepanjang perjalanan, sepeda-sepeda jengki berlalu lalang. Keranjang depan, desain vintage, dan posisi duduk yang tegak membuat pemandangan itu terasa seperti potongan kecil Jepang yang singgah di Ponorogo.
Ide dari Jepang, Tumbuh di Ngebel
Di balik ramainya wisatawan bersepeda, ada sosok muda yang mengayuh roda ekonomi lokal. Muhammad Bagus Brillian, pemilik persewaan sepeda di Telaga Ngebel, menghadirkan konsep yang kini menjadi magnet baru wisatawan.
Bagus mengaku usahanya dimulai dengan pemikiran sederhana. Ia melihat potensi wisata Telaga Ngebel dan membandingkannya dengan tren bersepeda di Jepang yang ramai di media sosial. “Sepeda dengan keranjang seperti itu viral. Saya pikir, kalau dibuat di sini, bagus juga,” ujarnya.
Awalnya, Bagus hanya menyediakan beberapa unit. Namun respon pengunjung ternyata sangat positif. Dari situ, ia menambah jumlah sepeda hingga kini mencapai 20 unit. Pada hari libur, jumlah penyewa bisa menembus 50 orang per hari. Pada hari biasa, angka penyewaan tetap stabil di kisaran 15–20 orang. “ Mulai awal Oktober, hanya beberapa sepeda tapi saat ini ada 20 unit sepeda yang kita datangkan,” jelasnya.
Menurut Bagus, wisatawan paling sering datang pada pagi dan sore hari. Mereka menghindari panas sekaligus ingin menikmati cahaya terbaik telaga. Menjelang akhir tahun, jumlah pengunjung terus meningkat seiring musim liburan.
Meski konsepnya terinspirasi Jepang, Bagus menegaskan bahwa sepeda-sepeda tersebut bukan impor langsung. Ia memilih model vintage yang disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan lokal. Harga sewa pun tetap terjangkau agar semua kalangan bisa menikmati. “ Sewanya 1 jam Rp 20.000, nanti tinggal berapa jam penyewa menggunakan tinggal dikalkukasi. Sepeda kita datangkan dari Indoensia, kita pilih yang modelnya vintage untuk menyesusaikan dengan keindahan alam Telaga Ngebel,” urainya.
Selain sepeda, kawasan Telaga Ngebel juga menggeliat lewat sektor lain. Kopi Robusta dari Lereng Gunung Wilis mulai dikenal wisatawan. Warung dan kafe lokal menyajikan kopi susu, kopi gula aren, hingga sajian sederhana yang menemani udara dingin telaga. “ Kita juga punya café untuk mengenalkan kopi robusta dari lereng Gunung Wilis. Semua kit alakukan untuk memberikan nilai tambah keindahan Telaga Ngebel,” katanya.
Semua bergerak pelan, tapi pasti.
Telaga Ngebel bukan sekadar destinasi alam. Ia adalah ruang temu antara tradisi, alam, dan kreativitas generasi muda. Panorama perbukitan hijau, udara sejuk, serta hamparan udara telaga menjadi fondasi yang kuat bagi pengembangan wisata berkelanjutan.
Aktivitas bersepeda kini melengkapi daya tarik lama seperti wisata perahu, memancing, dan kuliner ikan nila bakar. Tradisi Larung Risalah Doa tetap hidup, berjalan beriringan dengan inovasi wisata yang lahir dari media sosial dan keberanian pelaku usaha lokal.
Bagi wisatawan seperti Ana Siva, Tasya, dan Agustina, Telaga Ngebel bukan hanya tempat berlibur. Ia menjadi pengalaman tentang mengayuh secara perlahan, menikmati udara, dan menemukan kebahagiaan sederhana. Bagi usaha pelaku seperti Bagus, Ngebel adalah harapan, ruang tumbuh, dan ladang belajar.
Di setiap kayuhan sepeda, Telaga Ngebel menampilkan wajah barunya: lebih hidup, lebih ramah, dan lebih dekat dengan generasi masa kini. Di lereng Gunung Wilis, Jepang mungkin hanya inspirasi. Namun semangatnya, tertib, sederhana, dan menyatu dengan alam—kini benar-benar berputar di roda-roda sepeda Ngebel.