Rasi Fm – Tidak hanya Pendidikan setara D1 ATK di Magetan yang kurang diminati calon mahasiswa, namun jurusan kriya kulit yang dibuka di SMK Yosonegoro juga kurang peminat, padahal jurusan kriya kulit di SMK Yosonegoro juga digratiskan bagi siswa.
Kepala Sekolah SMK Yosonegoro Khamid Manan mengatakan, tahun ajaran 2021-2022 siswa yang mendaftar sebagai siswa di jurusan kriya kulit hanya 20 siswa dari kuota 36 siswa. Untuk mendapatkan 20 siswa pihak sekolah juga harus melakukan pendekatan kepada sejumlah sekolah setingkat SMP. Jurusan kriya kulit di SMK Yosonegoro dibuka untuk memberikan peningkatan SDM dibidang kerajinan kulit di Kabupaten Magetan.
“Kuota satu rombel itu 36, itupun untuk 20 siswa sudah luar biasa, karena yang tahun kemarin tidak sampai 20. Harapannya karena Magetan itu sentra kulit harapannya kita bisa mengangkat dan sangat diminati masyarakat, tapi ternyata tidak sesuai dengan yang kita bayangkan. Ternyata sulit juga memahamkan anak anak terkait kriya kulit termasuk orang tua juga,” ujarnya.
Khamid Manan menambahkan, kurangnya minat siswa bersekolah di jurusan kriya kulit diduga salah satu factor penyebabnya adalah masih minimnya fasilitas praktek yang dimiliki oleh SMK Yosonegoro. Pihak sekolah menurut Kamid Manan masih kesulitan menyediakan peralatan praktek yang memadai karena masih fokus kepada penyelenggaraan pendidikan jurusan kriya kulit yang digratiskan. Dia berharap pemerintah daerah turut membantu ketersediaan alat praktek bagi siswa Kriya Kulit SMK Yosonegoro.
“Harapan kita pemda membantu untuk prakteknya karena alatnya belum lengkap. Tiga tahun ini biaya anak kita suplai semuanya, gratis semuanya sampai ke alat belum bisa maksimal. Utamanya untuk kebutuhan anak, semuanya gratis, tidak ada uang gedung, semua gratis. Alat ini harapannya kita dibantu pemerintah daerah, tapi saat ini belum,” imbuhnya
Saat ini lulusan kriya kulit SMK Yosonegoro lebih memilih langsung terjun dibidang usaha kerajinan kulit dibandingkan dengan melanjutkan ke ATK yang dibiayai oleh pemerintah daerah. Belum adanya sinergitas antara jurusan SMK Kriya Kulit dengan Pendidikan setara D 1 ATK Yogyakarta juga disinyalir menyebabkan minimnya informasi yang diterima siswa SMK Kriya kulit SMK Yosonegoro. Padahal dengan melanjutkan pendidikan, kemampuan siswa dibidang perkulitan akan lebih berkembang.
“Sebenarnya peluangnya luar biasa, anak anak yang lulus sudah banyak pesanan membuat sandal, membuat sepatu,” ucapnya.
Kabupaten Magetan merupakan produsen samak kulit terbesar, dimana dalam 1 tahun LIK Kabupaten Magetan mampu menghasilkan 7 juta fet kulit. Sayangnya 80 persen hasil samak kulit di Kabupaten Magetan dipasarkan diluar daerah.
Dengan peningkatan SDM di bidang kulit dengan keberadaan SMK dan ATK diharapkan akan meningkatkan produksi kerajinan kulit di Kabupaten Magetan. (DmS)