News

Menolak Geotermal, Relawan Lari 150 Kilometer dari Gunung Lawu Menuju Semarang

Published

on

RASI MEDIA – Sejumlah pegiat lingkungan dan relawan Gunung Lawu menempuh lari sekitar 150 kilometer dari kawasan Gunung Lawu menuju Semarang untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana eksplorasi panas bumi atau geotermal. Koordinator aksi Anso Panudin mengatakan, mereka memilih lari sebagai bentuk kampanye lingkungan sekaligus membawa aspirasi masyarakat menuju kantor Gubernur Jawa Tengah. Anso menilai kawasan Jenawi, Karanganyar, tetap menjadi bagian dari ekosistem Gunung Lawu sehingga rencana eksplorasi tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Lawu. Mereka juga mengkhawatirkan ketersediaan air, keberadaan situs sejarah seperti Candi Cetho dan Candi Sukuh, serta dampak perubahan ekosistem terhadap petani di lereng Lawu. “Bagi kami, gunung itu ibu kami. Sudah lah, energi lain. Ada matahari yang luar biasa. Kemudian di sepanjang bantaran pantai juga bisa pakai tenaga angin. Kenapa pemerintah dari dulu nekat membawa isu geotermal ini di tapak-tapak gunung?” ujar Anso.

Pelari sekaligus anggota Jogo Lawu, Jainudin, mengatakan tiga pelari akan menempuh perjalanan secara penuh, sedangkan peserta lainnya mengikuti secara estafet. Rombongan menargetkan perjalanan sekitar 75 kilometer per hari dan melewati Solo, Sukoharjo, Boyolali, Ungaran hingga Semarang. Sepanjang perjalanan, mereka menyiapkan sejumlah titik istirahat sekaligus kampanye lingkungan dan diskusi dengan komunitas setempat. Jainudin mengatakan komunitas dari Jawa Tengah dan relawan SAR ikut membantu kebutuhan logistik serta tempat istirahat peserta. “Targetnya dua hari, itu nanti per 75 kilometer. Yang pasti kita menyuarakan tentang penolakan geotermal. Dan juga ini berdampak ke masyarakat, terus para petani juga,” kata Jainudin.

Koordinator Jateng Guyub, Joko Apriyanto, mengatakan aksi lari tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menjelang Hari Tani pada 24 September. Menurutnya, kelompok lingkungan dari berbagai daerah di Jawa Tengah akan bergabung untuk menyampaikan aspirasi mengenai kelestarian lingkungan. Selain geotermal, mereka juga menyoroti aktivitas pertambangan dan persoalan lingkungan lainnya. Joko mengatakan aksi tersebut sekaligus mengingatkan bahwa Gunung Lawu memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat di berbagai wilayah, mulai dari petani, buruh hingga pedagang. “Puncaknya 24 nanti hampir 20 kabupaten di Jawa Tengah yang tergabung di Jateng Guyub akan bersuara bahwa kelestarian lingkungan itu wajib kita suarakan,” ujar Joko.

Click to comment

Trending

Exit mobile version