Rasi Fm – Banyak yang tidak mengenal Solikatun, remaja putri yang berasal dari Desa Turi Kabupaten Magetan. Perempuan beranjak dewasa yang suka dengan makanan bakso tersebut memang jarang diekspos oleh media meski prestasinya sangat membanggakan Bangsa Indonesia di Kejuaraaan Asean Youth Paragame di Dubai tahun 2017 yang diikuti oleh 30 negara se Asia. Di kejuaraan tersebut Solikatun mempersembahkan medali emas, mengalahkan ratusan atlit dari Negara lain.
Ditemui di sela kegiatan latihannya, Solikatun mengaku serius menggeluti oleh raga atletik sejak kelas 3 SD. Pada waktu itu dia hanya berlari untuk menemani kakaknya yang juga seorang atlit untuk latihan. Namun latihan yang dijalaninya membuat teknik berlarinya semakin berkembang pesat dengan bukti dia akhirnya mampu mengalahkan atlit normal dalam lomba atletik 100 dan 200meter dalam pekan olah raga Kabupaten. Prestasinya semakin moncer ketika menjadi duta Kabupaten dalam kegiatan pekan olah raga paralimpik di Kabupaten Gresik. Meski hanya meraih juara harapan, namun langkah Solikatun akhirnya tidak bisa terbendung lagi ketika mengikuti even atletik paralimpik berikutnya. Sejak saat itu namanya sering mengharumkan Kabupaten Magetan dalam ajang kejuaraan atletik.
“Kakak saya ikut POR SD, kalah, akhirnya saya gantikan. Setelah itu saya dilatih terus oleh Pak Arif di Cepoko. Pada even di Gresik kan ada final, aku masuk 4 besar. Disitu semua atlit normal, disitu saya kalah,” ujarnya.
Prestasi Solikatun semakin melambung sejak dia tergabung dalam National Paralympic Committee (NPC ) Indonesia, adalah organisasi keolahragaan yang melakukan Pembinaan, Pembangunan, Peningkatan dan Prestasi Atlet dalam Olahraga bagi atlit Prestasi para penyandang Disabilitas di Indonesia. Sejumlah prestasi baik tingkat Kabupaten , Nasional bahkan tingkat antara negara mulai diraih oleh Solikatun. Pada tahun 2017 dalam Kejuaraaan Asean Youth Paragame di Dubai yang diikuti oleh 30 negara se Asia Solikatun menyumbangkan emas melalui lari jarak 200 meter.
Berkat perjuangannya, Solikatun saat ini bisa membantu orang tuanya merehab rumah, membeli motor untuk kepentingannya serta sejumlah kebutuhan pribadinya bisa dipenuhi dari hasil jerih payahnya sendiri. Meski demikian Solikatun yang baru saja lulus dari SKO Sekolah Khusus Olah Raga di Solo melalui program beasiswa, saat ini telah mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Unesa Jurusan Pendidikan Jasmani. Cita citanya dengan meraih gelar Sarjana di Unesa Solekatun akan meneruskan prestasinya sebagai pelatih bagi anak anak disablitas yang saat ini cukup sulit untuk bisa menunjukkan prestasinya. Dia berharap melalui bimbingannya yang mengalami sendiri kesulitan sebagai anak disabilitas untuk meraih prestasi dia berharap anak anak yang mengalami disabilitas seperti dirinya juga mendapat fasilitas seperti atlit lainnya.
“Dulu pas SD itu pernah ada yang ngejek saya, tapi saya itu saya mikir pas aku punya prestasi punya bakat sendiri saya tidak minder lagi, kenapa saya minder dengan kekurangan, karena saya punya kelebihan juga. Kesulitannya mungkin dari pemerintah itu mungkin tidak tahu kalau anak disabilitas itu mempunyai kelebihan sendiri di bidang atlit, tehnologi dibidang bahasa dan lain sebagainya, Anak disabilitas itu dikasih fasilitas agar anak disabilitas itu bisa semangat mempunyai prestasi,” imbuhnya.
Bulan Juni mendatang, Solikatun harus terbang ke Negara Vietnam untuk memperkuat atlit Indonesia pada kejuaraan Paralimpik Asean. Lagi lagi Solikatun mengaku akan menunjukkan kemampuannya sebagai atlit pelari sprinter. Melalui prestasinya, Solikatun mengajak anak anak yang memiliki kekurangan fisik sebagai anak disabilitas untuk tetap semangat mengejar cita cita, karena anak disabilitas juga mampu meraih prestasi.