RASI MAGETAN – Komunitas Mata Cermat resmi meluncurkan buku Secangkir Kopi untuk Magetan, sebuah antologi berisi puisi dan geguritan bertema Magetan, bertepatan dengan peringatan Hari Puisi. Buku ini ditulis oleh 47 penulis dari berbagai latar belakang, menjadi bukti nyata bahwa Magetan layak menyandang predikat Kabupaten Literasi.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Magetan, Suhardi, mengatakan, pihaknya mengapresiasi atas terbitnya buku tersebut. Dengan hadirnya karya dari 47 penulis di Magetan menjadi bukti bahwa Kabupaten Magetan layak menjadi Kabupaten Literasi karena penulis di Magetan tetap berkarya dan mengedukasi melalui karya mereka. “Secangkir Kopi untuk Magetan menjadi bukti bahwa Magetan adalah kabupaten literasi. Banyak penulis terus berkarya, mengangkat kisah, sejarah, dan kekayaan daerah ini,” ujarnya.
Salah satu penulis, Novinda, yang masih duduk di bangku kelas 12, mengaku bangga bisa menyumbangkan karyanya. Puisinya terinspirasi dari Padang Kurushetra dalam dunia wayang, menggambarkan bahwa keserakahan manusia akan berujung pada kesengsaraan. “Senang sekali diberi kesempatan, ini pengalaman yang luar biasa,” ucapnya.
Ketua Komunitas Mata Cermat, Sarno, menjelaskan bahwa buku ini memuat kisah Magetan dari masa lampau hingga kini. “Kami ingin mengajak pembaca untuk bangga menjadi warga Magetan, daerah di kaki Gunung Lawu yang memiliki sejarah, keindahan alam, dan literasi yang kaya. Semua itu bisa diwariskan kepada anak cucu lewat karya para penulis,” terangnya.
Acara peluncuran juga diisi dengan diskusi dan bedah buku, menghadirkan sejumlah penyair dari Trenggalek dan Madiun, serta penulis yang karyanya dimuat dalam buku tersebut. Momen ini menjadi ajang silaturahmi para pegiat literasi sekaligus pengingat bahwa karya sastra mampu menjadi pengikat identitas dan kebanggaan daerah. (DmS)