Kesehatan & OlahRaga

Kasus ISPA di Magetan Naik hingga 1.800 Pasien, Dinkes Sebut Masih Stabil

Published

on

RASI MEDIA, MAGETAN – Kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan, jumlah kasus ISPA tercatat mencapai sekitar 1.800 pasien dalam satu pecan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Rohmat Hidayat mengatakan, peningkatan kasus tersebut terpantau dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons atau SKDR yang dipantau setiap pekan. “Memang dari minggu ke-34, 35 sampai dengan minggu ke-36 itu ada peningkatan kasus ISPA,” kata Rohmat Rabu (31/9/2026)

Rohmat menyebut, perkembangan kasus ISPA kemudian terus dipantau hingga pekan berikutnya dan jumlahnya berada di kisaran 1.800 kasus. Meski jumlahnya meningkat, kondisi tersebut belum menunjukkan lonjakan yang tajam. “Kalau di sistem SKDR kita masih stabil. Belum ada melonjak yang tinggi, tajam,” ujarnya.

Menurut Rohmat, dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, kasus ISPA di Magetan tahun ini memang mengalami kenaikan. Namun, peningkatan tersebut masih berada dalam batas yang dipantau melalui sistem kewaspadaan dini. “Dibandingkan dengan tahun lalu, di minggu yang sama, tahun ini ada kenaikan. Cuma masih dalam kondisi yang stabil,” katanya.

Peningkatan kasus ISPA tersebut terlihat dari laporan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit. “Memang kunjungan rawat jalan di rumah sakit, puskesmas itu kasusnya meningkat, terutama ISPA, kelompok penyakit yang ISPA,” kata Rohmat.

Rohmat mengatakan, peningkatan kasus ISPA tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Kondisi cuaca selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan saluran pernapasan masyarakat. “Memang karena itu faktor cuaca juga, musim kemarau, panas, berdebu, di mana-mana ada asap, kebakaran. Itu juga memengaruhi kondisi kesehatan saluran pernapasan kita,” jelasnya.

Selain kondisi cuaca dan lingkungan, ISPA juga dapat dipicu berbagai penyebab, termasuk infeksi virus dan paparan polusi udara. “Sebenarnya kalau disebut penyebabnya banyak, tidak spesifik. Bisa virus, bisa polusi udara dan faktor lainnya,” ujarnya.

Menurut Rohmat, kondisi udara yang panas, kering, berdebu serta adanya asap akibat kebakaran dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatan selama musim kemarau.

Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus ISPA melalui SKDR. Pemantauan dilakukan setiap minggu untuk melihat apakah kenaikan kasus masih dalam kondisi stabil atau mulai menunjukkan lonjakan yang perlu diwaspadai. “Tetap kita pantau melalui SKDR, Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons, terutama penyakit ISPA. Jadi setiap minggu memang kita pantau,” kata Rohmat.

Rohmat mengimbau masyarakat yang mengalami gejala gangguan pernapasan untuk menjaga kondisi tubuh dan menggunakan masker, terutama ketika berada di lingkungan yang berdebu atau banyak asap. “Kalau sakit ya gunakan masker, istirahat, jaga kondisi tubuh,” ujarnya.

Ia juga meminta masyarakat tidak panik menyikapi kenaikan kasus tersebut, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan. “Memang ada kenaikan, tapi masih relatif stabil,” kata Rohmat.

Click to comment

Trending

Exit mobile version