News

Cerita Dimas Petani Milenial di Magetan, Mampu Menghasilkan Rp 200 Juta Selama 2 Bulan dari Bertanam Melon.

Published

on

RASI MAGETAN – Tak banyak yang membayangkan di usia muda bergelut dengan pekerjaan bertani. Tapi bagi Dimas Wahyu Trianto (23) warga Desa Pandeyan, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur dia sudah memantap diri akan menggeluti dunia pertanian dengan menanam melon pasca lulus SMA N 1 Maospati 4 tahun lalu. Tak tanggung tanggung, dalam waktu 2 bulan dia berhasil mengantongi pendapatan dari bertanam melon sebesar Rp 200 juta. “Milih menanam melon memang ini tanaman yang memiliki nilai jual tinggi. Satu kilo harganya bisa Rp 10 ribu dimana satu buah melon itu bisa mencapai 3 sampai 4 kilo. Tinggal kalikan perbuah kali perpohon yang kita tanam,” ujarnya ditemui di stand pameran pertanian dalam rangka memperingati Hari Krida Pertanian Rabu (9/7/2025).

Dari pendapatannya saat ini yang mencapai Rp 200 juta per 2 bulan dia mengaku telah memiliki rumah sendiri sebagai investasi masa depan. Dia juga menginvestasikan penghasilannya dengan membeli tanah dan emas. “Mau beli mobil dilarang sama orang tua karena nilai investasi mobil itu akan terus menurun. Saat ini masih disuruh pakai mobil orang tua,” imbuhnya.

Berkah kecelakaan.
Dimas Wahyu mengaku kesuksesannya bertanam buah melon hingga berhasil mendulang cuan hingga ratusan juga bahkan berawal dari hal yang tidak terduga, kecelakaan saat kelas 1 SMP. Akibat kecelakaan sepeda motor tersebut dia mengalami sejumlah patah tulang dan menerima puluhan jahitan. “Padahal cita cita saya ingin masuk ke sekolah ikatan dinas Politeknik Perkeretaapian Indonesia Madiun. Informasi yang saya terima kalau banyak bekas jahitan bakal sulit diterima di sekolah ikatan dinas,” ucapnya.

Untuk memulihkan patah tulang dan luka Dimas mengaku butuh waktu hingga 2 tahun. Selama 2 tahun dia memupus keinginannya untuk melanjutkan ke sekolah ikatan dinas KAI. “Informasinya kalau banyak bekas jahitan bakal susah masuk ke sekolah kedinasan. Akhirnya milih ke SMA N 1 Maospati,” katanya.

Selama sekolah di SMA N 1 Maospati Dimas memiliki teman yang berasal dari Ngawi dan melihat orang tua temannya tersebut bertanam buah melon ketika musim kemarau. Dari hasil riset yang dia lakukan melalui youtube bertanam buah melon ternyata memiliki nilai ekonomis yang tinggi. “Kepikirannya sudah sejak sekolah tapi baru berani menanam setelah lulus sekolah sambil mencari referensi di youtube dan nanya ke PPL yang ada disini karena selama ini orang tua saya nanamnya setahun penuh itu padi,” jelasnya.

Dari lahan 1 hektar persegi mampu raup Rp 200 juta.
Setelah merasa memiliki informasi cukup terkait cara menanam buah melon untuk semua musim, Dimas memberanikan diri untuk mencoba menanam di lahan 500 meter persegi milik orang tuanya. Dari upaya yang dilakukan Dimas mengaku mampu meraup keuntungan yang cukup lumayan. Dia juga mengaku memiliki pengalaman bagaimana menghadapi kendala untuk menanam buah melon saat musim hujan maupun saat musim kemarau. “Kalau biasanya memang petani menanam di musim kemarau, tapi kita bisa menanam di semua musim yang penting kita tahu kondisi tanah dan mengatasi jika terlalu banyak air dimusim hujan atau layu di musim kemarau,” ujarnya.

Dimas mengaku menggunakan agen hayati atau organisme hidup yang digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman, serta organisme pengganggu lainnya. Dia juga memanfaatkan jamur ecoderma untuk mengatasi layu fusarium serta penggunaan hudrogen peroksida untuk melakukan sterilisasi lahan tanam. “Banyak mendapat bimbingan dari penyuluh dari kecamatan utnuk mengatasi jamur maupun bakteri. Prosesnya tetap manual tetapi bagaimana mengatasi kendala musim saat hujan dan kemarau karena hama atau penyakitnya juga berbeda,” imbuhnya.

Di tahun kedua bertanam buah melon Dimas mengaku mulai berani ekspansi untuk menanam melon di lahan 1 hektar milik orang tuanya. Dengan modal Rp 80 juta dia mengaku berhasil meraup pendapatan hingga Rp 200 juta. “Akhirnya itu nanam di lahan 1 hektar dengan modal Rp 80 juta. Dari 1 hektar tanaman melon atau setara dengan 8.500 batang pohon dengan perpohon kita estimasi 3 kilo kita bisa mendapatakan penghasilan Rp 200 juta selama 2 bulan,” jelasnya.

Menularkan Ilmu ke petani muda pemula.
Saat ini lahan yang dikembangkan oleh Dimas sudah mencapai belasan hektar dengan system setengah hektar tanam, saat di lahan setengah hektar lainnya mulai panen sehingga hamper setiap bulan bisa panen. Hasil dari kerja keras Dimas saat ini telah memiliki rumah sendiri, mobil meski masih merupakan asset orang tua, serta berinvestasi di lahan pertanian dan emas. “Investasinya di rumah sudah terbeli, kemudian tanah dan emas. Kalau mobil disarankan untuk pakai mobil orang tua Karena nilai investasi mobil akan turun, sehingga milih yang nilainya bisa stabil,” ucapnya.

Berhasil menjadi petani milenial di usia yang masih belia tidakk menyurutkan niat Dimas untuk berbagi ilmu di bidang bertanam melon untuk generasi muda di Magetan. Bahkan dia membuka lebar pintu rumahnya jika ada anak anak seusia sebayanya belajar bagaimana bertanam melon. ”Kalau mau belajar daring juga bisa atau datang langsung kerumah nanti kita akan ajarkan bagaimana bertanam melon secara tradisional di lahan selama sepanjang tahun. Untuk petani pemula gratis karena kita ingin anak anak muda itu menggeluti pertanian,” ujarnya.

Saat ini menurut Dimas banyak pemuda yang malu menjadi petani karena dari sisi perekonomian masih dipandang sebelah mata. Padahal dengan belajar bertani yang benar akan bisa membidik pangsa pasar yang akan mendatangkan kesejahteraan lebih bagi petani. Ke depan Dimas mengaku akan mengembangkan tanaman buah melon ke arah tanaman buah yang organik. “Kita siap membantu petani muda untuk berkembang baik datang langsung dirumah atau bisa melalui daring di @Dimas Wahyu Trianto. Kita akan bantu secara gratis,” pungkasnya. (DmS)

Click to comment

Trending

Exit mobile version