News

19.030 Warga Magetan Tercatat dalam Skrining Hipertensi, Mayoritas Berusia 50-59 Tahun

Published

on

RASI MEDIA – Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mencatat sebanyak 19.030 warga terdata dalam pemeriksaan atau skrining hipertensi hingga saat ini. Mayoritas warga yang terdata berada pada rentang usia 50-59 tahun. Pengelola Program Penyakit Tidak Menular (PTM) Dinas Kesehatan Magetan, Sri Martinah, mengatakan jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan catatan sepanjang 2025 yang mencapai 34.097 orang. “Untuk laporan hasil skrining hipertensi di Kabupaten Magetan saat ini sekitar 19.030 orang. Mayoritas penderita berada pada rentang usia 50-59 tahun. Sementara pada 2025 jumlahnya mencapai 34.097 orang,” kata Sri Martinah.
Menurut Sri, masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kondisi kesehatan menjadi salah satu persoalan dalam pengendalian hipertensi. Sebagian warga cenderung mengabaikan keluhan seperti pusing dengan memilih beristirahat atau mengonsumsi obat yang dibeli di warung. Padahal, keluhan tersebut perlu diperiksa untuk memastikan apakah seseorang mengalami hipertensi atau tidak. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi penyakit. “Ketika merasakan pusing, masyarakat cenderung memilih istirahat saja atau minum obat warung. Seharusnya mereka datang ke puskesmas untuk memeriksakan kesehatan, sehingga bisa diketahui apakah mengalami hipertensi atau tidak,” ujarnya.
Selain rendahnya kesadaran melakukan pemeriksaan, pola hidup yang kurang sehat juga menjadi faktor risiko hipertensi. Sri menyebut kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar garam tinggi masih banyak ditemukan di masyarakat. Menurut dia, sebagian warga merasa makanan kurang nikmat jika tidak memiliki rasa asin. Padahal, konsumsi garam secara berlebihan dapat meningkatkan risiko hipertensi.
Sri menjelaskan, hipertensi juga berpotensi memicu penyakit lain yang masuk dalam kelompok penyakit prioritas katastropik, yakni kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi. Karena itu, hipertensi perlu mendapat perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko kematian. “Hipertensi juga bisa disebut silent killer. Penyakit ini bisa meningkatkan risiko munculnya penyakit lain, seperti jantung dan stroke, yang berbahaya bagi keselamatan pasien,” jelasnya.
Untuk menekan risiko komplikasi dan kematian akibat hipertensi, Dinas Kesehatan Magetan terus melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai penyakit tidak menular (PTM). Kegiatan tersebut dilakukan melalui pertemuan langsung dengan masyarakat, melibatkan penanggung jawab desa, siaran radio, podcast, hingga media sosial Dinas Kesehatan. Selain edukasi, Dinas Kesehatan juga mengoptimalkan pelayanan posyandu yang rutin dijadwalkan setiap bulan di 20 puskesmas di Kabupaten Magetan.
Petugas kesehatan juga melakukan kunjungan rumah bagi warga yang kesulitan mengakses pelayanan kesehatan. Sasaran kunjungan antara lain warga lanjut usia yang tidak memiliki pendamping untuk datang ke posyandu maupun pasien dengan kondisi kesehatan yang membatasi mobilitas. “Untuk masyarakat yang rumahnya jauh, sudah lanjut usia, atau tidak ada yang mengantar, petugas juga melakukan kunjungan rumah. Jadi mereka tetap bisa mendapatkan pemeriksaan kesehatan,” katanya.
Sri memastikan ketersediaan obat hipertensi di seluruh puskesmas Kabupaten Magetan sejauh ini mencukupi. “Alhamdulillah, selama ini untuk obat sudah tersedia di seluruh puskesmas di Kabupaten Magetan,” pungkasnya.

Click to comment

Trending

Exit mobile version