Now playing

News Magetan

News Magetan (125)


Rasi Fm – Mengaku dicoret dari penerima bantuan langsung tunai BLT kompensasi covid 19 Kasimun (80) warga Desa Gebyog, Kecamatan Karangrejo, Kabuaten Magetan hanya bisa pasrah. Kasimun yang menderita sakit kolesterol dan mengalami gangguan pendengaran mengaku selama ini tidak pernah menerima bantuan apapun kecuali bantuan BLT kompensasi yang hanya 2 kali dia terima sebelum sekertaris desa Gebyog menyatakan jika Kasimun dicoret dari daftar penerima sesuai data dari pusat.
“Mbahe ini nggak dapat apa apa selama ini, cuman bantuan 2 kali yang 600.000 sekarang sudah 2 bulan tidak terima lagi katanya sudah dari sana tidak terima,” kata Suci anak Mbah Kasimun yang saat ini merawatnya.
Suci menambahkan, Mbah Kasimun hanya memiliki sepetak pekarangan yang diatasnya berdiri rumah sederhana. Suci sendiri hanya ibu rumah tangga dimana suaminya Mulyono hanyalah seorang reparasi tv yang kadang hanya mendapat 2 pelanggan selama seminggu. Beruntung keluarga Suci masih menerima PKH karena memiliki anak yang masih sekolah di kelas 9 salah satu sekolah menengah pertama. Meski dari keluarga yang tidak mampu, namun Mbah Kasimun hanya menerima bantuan BLT salama 2 bulan saja. Mbah Kasimun juga tidak pernah menerima bantuan pangan non tunai maupun bantuan program pemerintah daerah kasih bunda dimana orang lanjut usia di beri bantuan Rp 300.000 untuk makan mereka.
“Mbah Kasimun tidak pernah dapat bantuan baik bantuan pangan maupun bantuan lansia setiap bulan tidak pernah dapat. Padahal beliau ini tidak punya apa apa dan saat ini sakit stroke. Mbahe sudah tidak bisa kerja, tidak punya sawah ya saya yang merawat meski keadaan seperti ini” imbuh Suci.
Suci mengaku hanya bisa pasrah dengan keadaan jika mbah Kasimun tidak lagi menerima bantuan langsung tunai meski banyak keluarga yang lebih mampu namun justru masih menerima bantuan dari pemerintah.
Sementara Kepala Desa Gebyog Mbah Suyanto mengaku jika telah menanyakan hal tersebut kepada perangkat desa. Namun jawaban dari perangkat di desanya mengatakan jika semua penerima bantuan sudah sesuai dengan aturan dan sesuai dengan kriteria penerima bantuan. Suyanto mengaku akan melakukan cross cek langsung kepada masyarakat yang seharusnya berhak menerima bantuan justru tidak masuk dalam daftar penerima. “ Kemarin saya tanya dalam rapat semua sudah sesuai, ini saya akan cek kalau memang ada warga yang berhak tapi tidak terima. Saya percaya dengan perangkat tapi kalau begini artinya ada yang harus dibenahi,” katanya.

Rasi Fm – Pemerintah Kabupaten Magetan menggandeng Institut Tekhnologi Surabaya ITS untuk mengembangkan konektifitas kinerja sejumlah OPD yang ada di Magetan melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Melalui smart government diharapkan Pemerintah Kabupaten Magetan dapat mengembangkan Smart City. Bupati Magetan Suprawoto mengatakan, selama ini setiap OPD telah membuat aplikasi namun belum terkoneksi lintas OPD. Untuk mengembangkan smart city dibutuhkan perencanaan melalui peta jalan.
“Pengebangan I City itu banyak sekali tidak hanya di Magetan awalmya, jadi tiap daerah pasti ada silo silo. Setiap OPD pasti bikin aplikasi sendiri tapi tidak terkoneksi. Oleh sebab itu saya tidak mau, saya minta membuat road map, peta jalan. Peta jalan itu langkah yang harus ditempih bagaimana supaya kita pengembangan smart city jadi bagus. Ahlinya adalah ITS. Oleh sebab itu kita kerja sama dengan ITS untuk membuat peta jalan,” ujarnya.
Bupati Magetan Suprawoto menambahkan, saat ini sejumlah OPD telah dilakukan survey terkait jumlah asset serta jumlah warga masyarakat yang terlayani oleh OPD untuk dilakukan pemetaan. Dengan konektifitas antar OPD dan hasil survey terkait asset dan jumlah pelayanan diharapkan akan mampu menunjang kebutuhan terciptanya smart city di Kabupaten Magetan.
“ Mereka kan sudah survey masing masing OPD, bahwa mereka punya apa, komputermu berapa, aplikasinya apa, yang kamu layani siapa saja, sekarang bagaimana caranya. Sementara ini jalan masing masing, nanti akan terintegrasi,” ujarnya.
Bupati Magetan Suprawoto menambahkan, Focus Group Discussion (FGD) nantinya akan dilanjutkan dengan FGD berikutnya dimana untuk FGD berikutnya pemerintah daerah akan menentukan OPD layanan masyarakat mana saja yang akan terlibat.
Sementara Ketua tim ITS Surabaya, Dr. Ir. Endroyono, DEA mengatakan, pelaksanaan SPBE di kabupaten Magetan akan diarahkan pada sektor pelayanan. Tim dari ITS saat ini telah melakukan penyusunan proses bisnis dan integrasi data. Selanjutnya integrasi aplikasi umum dan khusus yang dikomando oleh Data and Command Center. (DmS).
.

Rasi Fm – Kepolisian Resor Magetan memastikan kesehatan anggotanya melalui rapid test yang digelar beberapa waktu lalu. Kapolres Magetan AKBP Festo Ari Permana mengatakan, rapid test dilakukan untuk memastikan kesehatan seluruh personil mengingat anggota polisi langsung berhadapan dengan masyarakat sangat beresiko terhadap penularan covid 19. Selama menjalankan tugas ditengah masyarakat, anggota kepolisian di Magetan juga diwajibkan menjaga protocol kesehatan.

“Semua kita jadwalkan untuk rapid semua ada 800 orang untuk antisipasi mereka karena dalam melaksanakan tugas mereka harus ditengah masyarakat. Untuk memberikan jaminan kepada masyarakat,” ujarnya.

Kapolres Magetan AKBP Festo Ari Permana menambahkan, seluruh personil kepolisian di seluruh Kabupaten Magetan yang berjumlah lebih dari 8.000 orang menjalani rapid test secara berkala. Selain melakukan rapid tesr, untuk meningkatkan imunitas sejumlah kegiatan oleh raga dan berjemur massal sambil melakukan apel pagi sering dilakukan jajaran kepolisian baik di polres maupun di polsek.
“Selain protocol di mako polsek maupun polres kita juga mendorong anggota untuk melakukan olah raga mandiri, kita juga melaksanakan (jemur massal) masing masing di polsek di satuannya itu juga melaksanakan kurnag lebih apel itu jam 8 ya lumayanlah,” imbuhnya.
Dari hasil rapid test yang dilakukan beberapa waktu lalu, Kapolres Magetan AKBP Festo Ari Permana memastikan tidak ada hasil reaktif dari seluruh jajaran kepolisian di Magetan. (DmS).

Rasi Fm - Kakek Markaban (90) warga Desa Bungkuk Kabupaten Magetan, ditemukan meninggal tergeletak di depan pintu dapur oleh kemenakannya sendiri Solehat pada Minggu (11/10) sore kemarin. Kapolsek Parang Suyono Magetan mengatakan, dari hasil pemeriksaan tim medis Puskesmas Parang Kakek Markaban dinyatakan telah meninggal 4 hari sebelum ditemukan. “ Diperkirakan telah meninggal 4 hari lalu, kondisinya sudah gembung,. Yang menemukan kemenakannya Solehat,” ujarnya
Suyono menambahkan, Markaban selama ini tinggal sendirian dan tidak memiliki anak. Anak angkatnya yang diambil dari saudaranya saat ini tinggal di Jakarta. Menurut keterangan sejumlah warga korban juga jarang berkomunikasi dengan saudaranya yang tingga berdekatan dengan rumah korban. Sementara kemenakan korban Solehat yang juga jarang mengunjungi korban mengaku memiliki firasat tidak enak sehingga MInggu sore mengunjungi korban.“ Korban ini jarang berkomunikasi dengan keluarganya. Jadi kemenakannya seperti ada firasat karna lama tidak menengok korban,” imbuhnya.
Kapolsek Parang AKP Suyono membantah jika korban meninggal karena kelaparan. Dia mengatakan saat ditemukan tergeletak di pintu dapur, ditemukan nasi dan bahan makanan lainnya. Menurut hasil pemeriksaan tim medis tidak ditemukan tanda tanda kekerasan pada tubuh korban. “ Kalau kelaparan ndaklah, karena ada bekas nasi ada peralatan masak ada,” ucapnya.
Sementara keluarga korban yang rumahnya berdekatan dengan rumah korban menolak memberikan keterangan. Mereka meminta kematian Markaban tidak diberitakan karena keluarga menerima sebagai musibah. “ Kami sudah ikhlas, kita minta nggak diliput karena tidak ada kekerasan apa,” ujar Rendra kerabat korban.

Page 5 of 32