Now playing

News Magetan

News Magetan (125)

Rasi Fm - Kepolisian Resort Magetan, Jawa Timur mengamankan 91 jerigen minuman keras jenis arak jawa yang akan di bawa ke Madiun. Kapolres Magetan AKBP Festo Ari Permana mengatakan, ke 91 jerigen atau 2.700 liter miras jenis arak jawa tersebut diambil oleh pelaku dari Kawasan Bekonang dengan menggunakan truk warna biru. Truk yang berisi puluhan jerigen arak tersebut diamankan di ruas tol Ngawi – Madiun. “ Diamankankan di jalur tol KM 597 A masuk Desa Sukowidi. Mirasnya diambil dari Bekonang, rencananya akan dibawa dan dipasarkan di Madiun,” ujarnya.
Festo menambahkan, dari pengakuan ketiga pelaku atas nama AR (28), DI (19) dan ES (42) ketiganya warga Madiun, bisnis jual beli arak jowo dari wilayah Bekonang Jawa Tengah sudah dijalani sejak Bulan Januari lalu. Untuk satu jerigen arak jawa para pelaku membeli di kawasan Bekonang seharga Rp 250.000 dan menjual di sejumlah warung di Madiun sebesar Rp 350.000. Dari pengakuannya para tersangka dalam sebulan bisa 4 kali mengambil arak dengan jumlah setiap pengambilan lebih dari 50 jerigen. “ Dari pengakuan mereka sejak bulan Januari mengambil arak dari kawasan Bekonang. Sekali ambil lebih dari 50 jerigen,”imbuhnya.
Ketiga pelaku yang merupakan warga Madiun saat ini diamankan di Polres Magetan untuk menjalani pemeriksaan. Polisi akan menjerat ketiganya dengan pasal 204 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun. “ Ancaman hukumannya kurungan penjara selama lamanya 15 tahun,” ucap Festo. (DmS)

Rasi Fm – Keprihatinan pendengar radio Rasi fm terhadap nasib buruh gendong di pasar sayur Magetan membuat mereka mengumpulkan donasi. Sebagian pendengar bahkan juga menyumbangkan puluhan nasi bungkus yang diberikan kepada sejumlah tukang becak saat pembagian kegiatan jumat berbagi. Kepala Studio Rasi FM Sudiono mengatakan, kegiatan social Jumat Berbagi memang berawal dari keprihatinan para pendengar radio Rasi kepada masyarakat yang kurang beruntung, apalagi dimasa pandemic covid 19. Jumat kali ini sebanyak 17 simbah buruh gendong yang kebanyakan berusia lanjut mendapat bingkisan sembako dan nasi bungkus dari pendengar radio Rasi FM.
“ Ini jumat berbagi dari pendengar radio Rasi yang mempercayakan kepada kita dimana setiap bulan akan kita salurkan donasi dari pendengar kepada yang berhak menerima,” ujarnya.
Salah satu buruh gendong Juminem warga Desa Selotinatah mengaku berterima kasih kepada pendengar radio Rasi yang telah peduli membagikan sembako kepada para buruh gendong. Bu Juminem mengaku dari bekerja sebagai buruh gendong setiap hari berpenghasilan Rp 30.000 hingga Rp 50.000 belum untuk pengeluaran transportasi sebesar Rp 10.000. Meski dengan penghasilan pas pasan, profesi butuh gendong telah di lakoni lebih dari 30 tahun. Sayangnya Mbah Juminem dan rekan buruh gendong lainnya tidak mendapat bantuan social tunai.
“Saya berangkat jam 3 pagi. Yang digendong, capar, tahu, buah pokoknay seadanya. Kalau penghasilan sehari 30 ribu kalau ramai ya sampai 50 ribu, pokoknya dapat beras sekilo sama lauknya. Saya di Desa tidak mendapat apa apa, BLT, PKH tidak dikasih,” katanya.
Jumat berbagi dari pendengar Rasi fm rencananya akan dilakukan setiap bulan sekali di minggu kedua. Sasaran dari kegiatan jumat berbagi adalah orang orang yang kurang beruntung dan keluarga kurang mampu yang membutuhkan bantuan.(DmS)

Rasi FM – Dinas Sosial Kabupaten Magetan memastikan bahwa Mbah Kasimun (80) warga Desa Gebyog Kecamatan Karangrejo Kabupaten Magetan telah menerima bantuan social tunai dar Kementiran Sosial sebanyak 5 kali. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Magetan Yayuk Sri Rahayu mengatakan, Mbah Kasimun menerima BTS dari Kemensos mulai Bulan April hingga Bulan Agustus kemarin.” Ibu Suci penerima bantuan PKH Mbah Kasimun menerima bantuan BST Kemensos senilai Rp 600.000 mulai tahap 1 sampai 3 di Bulan April sampai dengan Bulan Juni dan nilai 300.000 di tahap 4 dan 5 yaitu BUlan Juli dan Agustus,” ujarnya.
Yayuk menambahkan, mbah Kasimun tinggal bersama anaknya Ibu Suci dan suaminya, serta satu orang cucu dicoret dari penerima BST oleh Kementrian Sosial sejak Bulan September lalu. Pencoretan mbah Kasimun dari penerima manfaat karena adanya NIK yang invalid. “ Ditahap 6 dan 7 nama Mbah Kasimun terdelet dari data pusat kemensos RI, hal ini dikarenakan ada 2 ID BDT dalam DTKS yaitu atas nama mbah Kasimun dan yang satunya atas nama Pak Afif suami suami dari b suci. Karena KK sudah sendiri sendiri , ini masuk kategori NIK Invalid yang saat ini di benahi oleh kemensos,” imbuhnya.
Saat ini Kementrian Sosial Republik Indonesia masih melakukan sinkronisasi data NIK invalid penerima bantuan social di Magetan yang berjumlah 27.000.
Sebelumnya Mbah Kasimun warga Desa Gebyog, Kecamatan Karangrejo, Kabuaten Magetan hanya bisa pasrah karena dicoret dari daftar penerima BTS sebesar Rp 600.000. Kasimun yang menderita sakit kolesterol dan mengalami gangguan pendengaran bahkan mengaku hanya menerima bantuan sebanyak 2 kali. (DmS)

Rasi Fm – Meski berusia lanjut, belasan kuli gendong di Pasar Sayur Magetan terlihat masih bersemangat melakukan aktifitas mereka. Para buruh gendong rata rata berusia diatas 50 tahun bahkan diantaranya ada yang berusai 80 tahunan harus berangkat tengah malam untuk melayani jasa menggendong para pedagang etek yang mengambil dagangan untuk dijual keliling di pasar sayur Magetan. Juminem warga Desa Selotinatah salah satu buruh gendong yang telah berusia 65 tahun mengaku setiap hari mampu berpenghasilan Rp 30.000 hingga Rp 50.000 belum untuk pengeluaran transportasi sebesar Rp 10.000. Meski dengan penghasilan pas pasan, profesi buruh gendong telah di lakoni lebih dari 30 tahun.
“Ya tidak pasti, kalau ramai dapat 50 kalau tidak ramai ya 40 ribu atau 30 ribu. Ongkos mobil 10 ribu. Dirumah tidak ada kerjaan, ramai tidak ya disini. Tidak pernah libur kalau tidak capek. Kalau tidak kerja begini tidak dapat apa apa. Kerja cukup buat makan setiap hari,” ujarnya.
Disamping Mbah Juminem, mbah Paerah yang telah berusia 80 tahun terlihat terkantuk kantuk karena kecapaian setelah sepagian bekerja. Meski telah berusia senja, mereka masih harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Sayangnya mereka mengaku tidak pernah tersentuh bantuan dari pemerintah. Baik bantuan pangan non tunai maupun bantuan tunai social bagi pekerja terdampak covid 19. Selama awal pandemic covid 19, mereka mengaku tak bisa bekerja karena pasar sepi.
“sama sekali tidak dapat BLT, PKH atau beras tidak pernah dapat. Semua ini tidak ada yang dapat bantuan. Katanya yang lain dapat uang, dapat beras, kami tidak dapat apa apa. Tidak dapat apa apa,” imbuhnya.
Di Pasar Sayur Magetan terdapat ratusan buruh gendong yang memiliki kawasan kerja masing masng. Juminem dan Mbah Paerah merupakan buruh gendong yang berada di pintu masuk Pasar Sayur bagian Selatan yang kebanyakan melayani gendongan yang tidak terlalu berat. Mereka bekerja dari pukul 3 malam hingga pukul 9 pagi. Meski tak pernah berharap ada bantuan bagi mereka, diusia senja mereka selayaknya pemerintah memperhatikan nasib para buruh gendong. (DmS)

Page 4 of 32